Cerita sadis Jeritan korban Khmer Merah



Korban: Nasib Kami Lebih Buruk dari Binatang
Selama sembilan tahun Khmer Merah berkuasa, 1,7 juta rakyat Kamboja tewas.
SELASA, 28 JUNI 2011, 06:48 WIB
Elin Yunita Kristanti
VIVAnews – Di masa jayanya, empat pria itu memegang jabatan penting di Khmer Merah, juga dekat dengan sang penguasa, Polpot.  Kini, nasib berbalik.  Mulai Senin 27 Juni 2011, di masa tuanya, mereka harus duduk sebagai pesakitan, mempertanggungjawabkan perbuatannya: turut andil dalam pembantaian 1,7 juta orang. Hampir seperempat populasi rakyat Kamboja kala itu.
Mereka --tangan kanan Pol Pot, "kakak kedua" Nuon Chea, mantan Presiden Kamboja Khieu Samphan, mantan Perdana Menteri Kamboja Ieng Sary, dan mantan Menteri Sosial Kamboja Ieng Tirith, diadili dalam kasus kejahatan kemanusiaan yang terjadi 41 tahun lalu.
Pada 1970-1979, saat itu, darah tumpah di Kamboja dan nyawa dianggap tak berharga. Warga hidup dalam teror saat Khmer Merah mendeklarasikan dimulainya 'tahun nol' --sebuah revolusi yang merelokasi paksa warga ke desa-desa demi membangun sebuah utopia negara agraris.
Mimpi itu tak pernah tercapai, yang terjadi justru kematian massal. Ada yang  dieksekusi, sakit, kelaparan, atau karena dipaksa kerja rodi.
Para terdakwa boleh menyangkal perbuatannya, namun korban tak akan pernah lupa. Pol Phala (59), salah satunya. Saat periode brutal itu terjadi, ia berusia 25 tahun. Perempuan itu masih ingat saat pasukan Khmer Merah mengusir warga dari kota.
“Waktu itu aku baru keguguran, mereka mengizinkanku beristirahat, tapi hanya sehari. Setelah itu mereka memaksaku berjalan jauh,” kata dia seperti dimuat situs Al Jazeera.
Kata Pol Phala, ia merasa seperti binatang, berjalan kaki dengan tubuh kesakitan berlumuran darah. “Nyatanya, kami semua seperti binatang, tapi makanan yang kami dapatkan bahkan lebih buruk dari makanan hewan.”
Mayat bergelimpangan jadi pemandangan lumrah di sepanjang jalan. “Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana melarikan diri, dan harus ke mana,” tambah dia.
Sampai akhirnya mereka tiba di Desa Sambo. Awalnya, Khmer Merah menyuruh mereka membuat benteng sawah. Tapi, kemudian mereka dipaksa membangun dam besar. “Kami bekerja tanpa alat, hanya dengan tangan. Sangat berat. Jika belum selesai, mereka tak akan memberi kami makan,” kata Pol Phala.
Bagaimana jika ada yang berontak? Kata dia, Khmer Merah pasti akan membunuh siapa pun yang tak menurut. Mereka akan memukuli orang itu di depan yang lain, hingga tewas, lalu menyeret jasadnya pergi.
Para penjaga yang bertugas mengawasi penduduk berusia antara 15-16 tahun.  Buta huruf. Meski tergolong anak-anak mereka tak segan bertindak brutal, hingga tega membunuh.
Korban yang lain adalah Lon Him, seorang mahasiswa bisnis yang dipaksa jadi budak pertanian. Awalnya, saat melihat Khmer Merah untuk kali pertamanya, ia merasa sangat gembira. Perang sudah usai, kehidupan akan kembali normal. Tapi, ia salah besar.
Dengan todongan senjata, tentara memaksa mereka meninggalkan Phnom Penh. Menuju desa. Yang menentang, langsung dieksekusi mati. Di desa, warga dipaksa bekerja di sawah dan menggotong karung penuh beras sejauh 5 kilometer.
“Selama 12 jam dalam sehari, kerjaku mengangkut berkarung-karung beras,”  kata dia.
Kerja keras tak diimbangi makan cukup. Tiap hari mereka hanya mendapat jatah potongan gedebok pisang dicampur sedikit beras --untuk dimasak sebagai bubur. Dengan tenaga seadanya, mereka tak boleh nampak malas. Akibatnya bisa fatal.
Beberapa orang dihilangkan paksa, dibunuh, biasanya mereka adalah orang yang bisa membaca dan dianggap terlalu banyak omong. Yang selamat adalah mereka yang bisa menyembunyikan asal-usulnya.
Selama itu, Lon Him kehilangan ayah dan empat saudaranya. “Mereka memperlakukan kami seperti binatang, padahal kami adalah manusia,” kata dia.
Puluhan tahun berlalu, ia mengaku masih menyimpan marah di hatinya. “Kami berharap ada keadilan untuk mereka yang tewas, yang kehilangan keluarga, dan mereka yang selamat dalam kondisi memprihatinkan.”
Sementara, kisah Hum Hoy (52) sedikit berbeda. Khmer Merah memberinya tugas berjaga di luar penjara. Sejauh itu, ia belum pernah menyiksa tahanan. Sampai suatu hari, Khmer Merah memintanya bersumpah sebagai kader.
“Saya lalu mengambil tongkat besi dan memukul tahanan di bagian leher belakang hingga tewas,” kata dia.
Namun, Hum Hoy berdalih, ia tak punya pilihan. Jika menolak, ia akan dicap sebagai ‘musuh revolusi’ dan menerima perlakuan buruk. Apakah dengan menjadi kader berarti ia aman? Tidak.
“Setiap orang diperintahkan untuk memata-matai yang lain. Untuk mencari kesalahan sesama kader. Saat itu saya selalu merasa ketakutan,” kata dia. “Jika pemegang pangkat tinggi mengeluarkan perintah, kami harus menurutinya agar selamat.” (art)
• VIVAnews




KAMBOJA atau Kampuchea merupakan negara di Asia Tenggara yang semula berbentuk Kerajaan di bawah kekuasaan Dinasti Khmer di Semenanjung Indo-China antara Abad Ke-11 dan Abad Ke-14. Rakyat Kamboja biasanya dikenal dengan sebutan Cambodian atau Khmer, yang mengacu pada etnis Khmer di negara tersebut. Negara anggota ASEAN yang terkenal dengan pagoda Angkor Wat ini berbatasan langsung dengan Thailand, Laos dan Vietnam. Sebagian besar rakyat Kamboja beragama Buddha Theravada, yang turun-temurun dianut oleh etnis Khmer. Namun, sebagian warganya juga ada yang beragama Islam dari keturunan muslim Cham.

Kamboja menghebohkan dunia ketika komunis radikal Khmer Merah di bawah pimpinan Pol Pot berkuasa pada tahun 1975. Saat itu, Pol Pot memproklamirkan Kamboja sebagai sebuah negara baru. Ia menyebut tahun 1975 sebagai "Year Zero". Segala sesuatunya ingin dibangun dari titik nol. Tanggal 17 April 1975 dinyatakan sebagai Hari Pembebasan (Liberation Day) dari rezim Lon Nol yang buruk dan korup. Ternyata, pembebasan yang dijanjikan Pol Pot justru merupakan awal masa kegelapan bagi rakyat Kamboja. 

Merdeka dari Perancis Pada tanggal 9 November 1953, Perancis mengakhiri penjajahannya di Kamboja yang telah berlangsung sejak tahun 1863 dan Kamboja pun menjadi sebuah negara berdaulat. Setahun kemudian mantan pemimpin negara kawasan Indo-China itu, Raja Norodom Sihanouk, kembali dari pengasingannya di Thailand. Sihanouk kemudian membentuk partai politik dan menggelar pemilihan umum (pemilu). Setelah memenangkan pemilu ia berhasil mengusir orang-orang komunis dan memperoleh seluruh kursi pemerintahan. Pada tahun 1955, untuk melepaskan diri dari segala bentuk pelarangan yang dibuat untuk raja oleh perundang-undangan Kamboja, Norodom Sihanouk mengembalikan tahta kepada ayahnya, Norodom Suramarit. Ia kemudian memasuki dunia politik. Selama pemilihan berturut-turut, pada tahun 1955,1958, 1962 dan 1966, partai bentukan Norodom Sihanouk selalu memenangkan kursi mayoritas di parlemen. Pada bulan Maret 1969, Pesawat Amerika mulai mengebom Kamboja untuk menghalangi jejak dan penyusupan dari tentara Vietkong. Pengeboman tersebut berakhir sampai tahun 1973. Pada tahun 1970, ketika Sihanouk sedang berada di Moskow dalam sebuah kunjungan kenegaraan, Marsekal Lon Nol melakukan kudeta di Phnom Penh. Lon Nol lalu menghapus bentuk kerajaan dan menyatakan Kamboja sebagai sebuah negara republik. Sihanouk tidak kembali ke negaranya dan memilih menetap di Peking, China. Ia memimpin pemerintahan dalam pelarian dan Khmer Merah merupakan bagian dari pemerintahan tersebut. 
Khmer Merah Khmer Merah (Bahasa Perancis: Khmer Rouge) adalah cabang militer Partai Komunis Kampuchea (nama Kamboja kala itu). Pada tahun 1960-an dan 1970-an, Khmer Merah melakukan perang gerilya melawan rezim Shihanouk dan Marsekal Lon Nol. Pada 17 April 1975, Khmer Merah yang dipimpin oleh Pol Pot berhasil menggulingkan kekuasaan dan menjadi pemimpin Kamboja. Hanya dalam beberapa hari saja, rezim baru ini telah menghukum mati sejumlah besar rakyat Kamboja yang tadinya bergabung dengan rezim Lon Nol. Penduduk Phnom Phen dan juga penduduk di provinsi lain terpaksa keluar dari kota dan pindah ke daerah-daerah penampungan. Phnom Phen menjadi kota mati. Seluruh perekonomian di seluruh negeri berubah di bawah garis keras komunis, Uang hilang dari peredaran. Akibat dari semua itu adalah terjadinya kelaparan dan wabah penyakit di daerah tersebut. Selama 44 bulan berikutnya, jutaan orang Kamboja menjadi korban teror dari Khmer Merah. Para pengungsi yang berhasil lari ke Thailand menceritakan kekejaman kelompok ini yang antara lain menghukum mati anak-anak hanya karena mereka tidak lahir dari keluarga petani. Selain itu orang-orang keturunan Vietnam dan Cina juga turut diteror dan dibunuh. Siapa saja yang disangka sebagai orang yang berpendidikan, atau menjadi angota dari keluarga pedagang pasti dibunuh dengan cara dipukul sampai mati, bukan dengan ditembak dengan dalih untuk menghemat amunisi. Killing Fields (Ladang Pembantaian) Masa empat tahun Pol Pot dan Khmer Merahnya berkuasa di Kamboja, adalah masa yang membuat seluruh dunia geger. Khmer Merah berupaya mentransformasi Kamboja menjadi sebuah negara Maois dengan konsep agrarianisme. Rezim Khmer juga menyatakan, tahun kedatangan mereka sebagai "Tahun Nol" (Year Zero). Mata uang, dihapuskan. Pelayanan pos, dihentikan. Kamboja diputus hubungannya dengan luar negeri. Hukum Kamboja juga dihapuskan. Rezim Khmer Merah dalam kurun waktu tersebut diperkirakan telah membantai sekitar dua juta orang Kamboja. Ada sekitar 343 "ladang pembantaian" yang tersebar di seluruh wilayah Kamboja. Choeung Ek adalah "ladang pembantaian" paling terkenal. Di sini, sebagian besar korban yang dieksekusi adalah para intelektual dari Phnom Penh, yang di antaranya adalah: mantan Menteri Informasi Hou Nim, profesor ilmu hukum Phorng Ton, serta sembilan warga Barat termasuk David Lioy Scott dari Australia. Sebelum dibunuh, sebagian besar mereka didokumentasikan dan diinterogasi di kamp penyiksaan Tuol Sleng. Penjara S-21 atau Tuol Sleng adalah organ rezim Khmer Merah yang paling rahasia. Pada 1962, penjara S-21 merupakan sebuah gedung SMA bernama Ponhea Yat. Semasa pemerintahan Lon Nol, nama sekolah diubah menjadi Tuol Svay Prey High School. Tuol Sleng yang berlokasi di subdistrik Tuol Svay Prey, sebelah selatan Phnom Penh, mencakupi wilayah seluas 600 x 400 meter. Setelah Phnom Penh jatuh ke tangan Khmer Merah, sekolah diubah menjadi kamp interogasi dan penyiksaan tahanan yang dituduh sebagai musuh politik. Di “ladang pembantaian” ini, para intelektual diinterogasi agar menyebutkan kerabat atau sejawat sesama intelektual. Satu orang harus menyebutkan 15 nama orang berpendidikan yang lain. Jika tidak menjawab, mereka akan disiksa. Kuku-kuku jari mereka akan dicabut, lantas direndam cairan alkohol. Mereka juga disiksa dengan cara ditenggelamkan ke bak air atau disetrum. Kepedihan terutama dirasakan kaum perempuan karena kerap diperkosa saat diinterogasi. Setelah diinterogasi selama 2-4 bulan, mereka akan dieksekusi di Choeung Ek. Sejumlah tahanan politik yang dinilai penting ditahan untuk diinterogasi sekitar 6-7 bulan, lalu dieksekusi.  

killing fields kamboja 
Haing S Ngor yang masa itu berprofesi sebagai seorang dokter adalah segelintir intelektual yang berhasil lolos dari buruan rezim Khmer Merah. Haing dianugerahi Piala Oscar tahun 1984 atas perannya di film "The Killing Fields". Dalam film itu, ia memerankan tokoh Dith Pran, jurnalis Kamboja yang selamat dari pembantaian. Namun malang, Haing tewas terbunuh di kediamannya di Los Angeles, AS, ketika melawan perampokan yang dilakukan tiga pecandu narkoba pada 1996. Intervensi Vietnam Pada tanggal 25 Desember 1978, setelah beberapa pelanggaran terjadi di perbatasan antara Kamboja dan Vietnam, tentara Vietnam menginvasi Kamboja. Tanggal 7 Januari 1979, pasukan Vietnam menduduki Phnom Penh dan menggulingkan pemerintahan Pol Pot. Pemerintahan boneka lalu dibentuk di bawah pimpinan Heng Samrin, mantan anggota Khmer Merah yang telah membelot ke Vietnam. Namun pemerintahan baru ini tidak diakui oleh negara-negara Barat. Sementara Pol Pot dan para pengikutnya lari ke hutan-hutan dan kembali melakukan taktik gerilya dan teror. Pol Pot yang bernama asli Saloth Sar akhirnya meninggal di tengah hutan pada 15 April 1998 karena serangan jantung. Menuju Perdamaian Pada tahun 1982, Tiga kelompok (faksi) yang masih bertahan di Kamboja yaitu Khmer Merah, dan Front kemerdekaan nasional, netral, kedamaian dan kerja sama Kamboja (FUNCINPEC) pimpinan Pangeran Sihanouk, serta Front nasional kebebasan orang-orang Khmer yang dipimpin oleh perdana menteri yang terdahulu yaitu Son Sann, membentuk koalisi yang bertujuan untuk memaksa keluar tentara Vietnam. Tahun 1989, tentara Vietnam akhirnya mundur dari Kamboja. 
Tahun 1992, PBB (UNTAC), mengambilalih sementara pemerintahan negara ini. Tahun berikutnya, PBB menggelar pemilu demokratis yang dimenangkan oleh FUNCINPEC. Faksi ini kemudian membentuk pemerintahan koalisi bersama Partai Rakyat Kamboja (CPP) pimpinan Hun Sen. 
Sekarang, Kamboja telah berkembang pesat berkat bantuan dari negara-negara asing. Negara ini bahkan telah menggelar persidangan terhadap seorang mantan pemimpin Khmer Merah atas dakwaan melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Rakyat di kota dan desa juga telah hidup tenang walaupun dihantui bahaya ranjau darat yang masih banyak bertebaran di seluruh penjuru negeri. Ahh, malangnya nasibmu Kamboja... Sick 





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...