Tragedi Rawagede 1947





Dari Rawagede, Menggugat Kejahatan Belanda
Pembantaian Belanda di Rawagede itu digugat Deen Haag. Sidang digelar Senin, 20 Juni 2011.
RABU, 15 JUNI 2011, 06:06 WIB
Elin Yunita Kristanti

Pembantian Rawagede (www.eenvandaag.nl)
VIVAnews -- Ini yang terjadi pada 9 Desember 1947: derap sepatu serdadu Belanda memasuki Desa Rawagede. Para serdadu itu datang untuk mencari gerombolan pengacau. Namun, yang kemudian terjadi adalah pembantaian. Sebanyak 430 penduduk desa tewas, semuanya laki-laki.


Hujan yang mengguyur di hari nahas itu membuat suasana makin menyayat. Cairan merah, air bercampur darah menggenangi desa. Perempuan dan anak-anak -- hanya itu yang tersisa -- mengubur mayat dengan tenaga dan alat seadanya. Bau mayat dari kubur yang tak begitu dalam tercium selama berhari-hari. Ini tindakan kriminal paling kejam, paling brutal, dan paling berdarah yang dilakukan Belanda dalam kurun waktu 1945 sampai 1949.


Rawagede telah hilang, namanya diganti menjadi Desa Balongsari, Rawamerta, Karawang. Letaknya  di antara Karawang dan Bekasi. Kini, 64 tahun berlalu, persoalan hukum Rawagede belum juga selesai.


Keluarga korban pembantaian mengajukan gugatan di Pengadilan Distrik Den Haag pada Rabu 9 Desember 2009. Diwakili oleh Liesbeth Zegveld, para keluarga korban meminta pemerintah Belanda mengakui kekejaman yang mereka lakukan di Rawagede. Mereka juga menuntut kompensasi.


Persidangan kasus Rawagede belum lagi rampung. Pada Senin 20 Juni 2011 pukul 09.30 waktu setempat, pengacara dijadwalkan akan membacakan pledoi atau pledooi administratie. "Rombongan korban yang menjadi saksi akan berangkat ke Belanda pada Rabu 15 Juni 2011 dari Bandara Soekarno-Hatta," demikian rilis Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda yang diterima VIVAnews, Selasa 14 Juni 2011 malam.


Diserukan kepada masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di Uni Eropa, menyimak persidangan Senin depan. Apalagi, acara ini ternyata digelar sehari menjelang menjelang peringatan hari wafatnya Bung Karno 21 Juni 2011."


Sebelumnya, melalui Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Nikolaos van Dam, Pemerintah Belanda telah menyampaikan penyesalan yang mendalam atas pembantaian di Rawagede.


Penyesalan itu disampaikan saat  Nikolaos menghadiri peringatan 61 tahun "Tragedi Rawagede" di Monumen Rawagede, Desa Balongsari, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Selasa 9 Desember 2008.


"Diperkirakan jumlah rakyat Indonesia yang tewas akibat aksi Belanda itu sangat besar. Atas nama pemerintah Belanda, saya ingin menyampaikan rasa penyesalan yang dalam atas segala penderitaan yang harus dialami," kata van Dam.
• VIVAnews





Ini 9 Janda Rawagede Penerima 

Kompensasi

Uang kompensasi harus sudah diterima paling lambat 14 Desember 2011.

JUM'AT, 9 DESEMBER 2011, 14:21 WIB
Anggi Kusumadewi, Nila Chrisna Yulika
Wanti, salah seorang janda korban pembantaian Rawagede (VIVAnews/Anhar Rizki Affandi)
VIVAnews Pemerintah Belanda menyiapkan dana kompensasi senilai total 180 ribu Euro atau Rp2,16 miliar bagi 9 janda korban pembantaian Rawagede, menyusul kemenangan gugatan para janda korban di Pengadilan Den Haag, Belanda, pada 14 September 2011.

Masing-masing janda korban nantinya akan menerima kompensasi sebesar 20 ribu Euro atau atau setara dengan Rp240 juta. Ketua Yayasan Ketua Komite Utang Kehormatan Belanda (KUKB), Jefri M. Pondak, menjelaskan bahwa dana kompensasi itu akan ditransfer ke rekening kantor pengacara keluarga korban, untuk kemudian didistribusikan kepada para janda korban yang berhak menerimanya.

Untuk kelancaran proses distribusi kompensasi, kata Jefri, masing-masing janda korban sudah dibuatkan rekening bank. “Sudah ada nomor-nomor rekening banknya. Tapi karena satu orang belum menyerahkan nomor rekeningnya, maka penyerahan kompensasi ditunda dulu,” terang Jefri usai Peringatan Tragedi Rawagede di Desa Balongsari, Karawang, Jawa Barat, Jumat 9 Desember 2011.

“Nanti kalau nomor rekening (penerima kompensasi) sudah lengkap, hari ini langsung ditransfer,” imbuh Jefri. Ia menegaskan, uang kompensasi paling lambat masuk ke rekening keluarga korban pekan depan, 14 Desember 2011. Jefri menegaskan, dana kompensasi akan langsung diserahkan dari pengacara langsung kepada janda korban.

“Tidak ada perantara, dari pengacara langsung ke janda,” kata dia. Hari ini juga, ujar Jefri, Yayasan KUKB akan menggelar pertemuan khusus antara janda-janda korban dan pihak pengacara mereka. Berikut nama kesembilan janda korban yang akan menerima kompensasi dari pemerintah Kerajaan Belanda:

1.    Almarhumah Wisah binti Silan (ahli waris: Tasma)
2.    Almarhumah Saih bin Sakam (meninggal 5 Mei 2011, ahli waris: Tasmin)
3.    Almarhumah Layem Binti Murkin (ahli waris: Muskarwarjo)
4.    Wanti binti Dodo
5.    Wanti binti Sariman
6.    Lasmi binti Kasilan
7.    Cawi binti Basian
8.    Tijeng binti Tasim
9.    Taswi
(eh)
• VIVAnews


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...