kisah dalam alquran

kisah-kisah yang ada dalam Alquran, diyakini ummat Islam bahwa kisah-kisah tersebut mengandung nilai-nilai filosofis dan pelajaran dalam menjalani hidup. makalah ini membahas tentang   Pengertian Kisah Dalam Alquran,   Macam-Macam Kisah Dalam Alquran,   Bentuk Pengungkapan Kisah Dalam Alquran. dan lain-lain.  
Makalah kisah dalam alquran Oleh: Daulat P. Sibarani.

Pendahuluan

Tidak dapat diragukan lagi bahwa kisah-kisah yang cermat akan digemari dan bisa mempengaruhi para pembacanya. Adalah merupakan salah satu keistimewaan sastra bahwa sastra yang baik bisa membawa para pembaca kepada alam yang ingin diwujudkan dalam karya tersebut.

Menyoal kisah-kisah yang ada dalam Alquran, ummat Islam meyakini bahwa kisah-kisah tersebut mengandung nilai-nilai filosofis dan pelajaran dalam menjalani hidup. Sekalipun demikian, tidak semua kisah-kisah yang diungkapkan dalam Alquran bisa dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Sementara itu, sebagian kaum muslimin ada yang menganggap bahwa tidaklah semua kisah dalam Alquran itu memang terjadi, tapi hanya untuk I’tibar, tapi sebaliknya sebagian lain menganggap bahwa meskipunbelum terbukti bahwa kisah itu benar, tidaklah wajar bagi kaum muslimin untuk tidak meyakininya.

Dalam makalah ini, penulis akan menguraikan beberapa persoalan yang berkenaan dengan kisah-kisah dalam Alquran yang dimulai dengan menguraikan batasan kisah yang diuraikan secara defenitif, yakni pengertian kisah dalam Alquran, macam-macam kisah dalam Alquran, bentuk pengungkapannya, pengulangan dan tujuan kisah tersebut.



B. Pengertian Kisah Dalam Alquran

Kata “kisah” berasal dari bahasa Arab yakni qi¡¡ah. Secara etimologis, al-qi¡¡ah merupakan ism ma¡dar dari kata kerja qa¡¡a-yaqu¡¡u yang berarti mengikutinya langkah demi langkah. Bentuk plural dari kata qi¡¡ah ini adalah qi¡a¡.
Pengertian al-Qi¡¡ah tersebut di atas dapat dipahami dari firman Allah dalam surah al-Qasas ayat 11:

وَقَالَتْ لِأُخْتِهِ قُصِّيهِ فَبَصُرَتْ بِهِ عَنْ جُنُبٍ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ(11)
Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: "Ikutilah dia" Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya (QS al-Qasas: 11).
Qa¡¡a juga bisa berarti menceritakan mimpi, seperti dalam firman Allah Swt:
قَالَ يَابُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ(5)
Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."(QS Yusuf: 5).
Di dalam Alquran, kata qi¡¡ah juga pernah diteruskan dengan kata al-¥aqq yang berarti kisah yang benar, seperti dalam surah Ali Imran ayat 62:
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(62)
Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS Ali Imran: 62).
Sedangkan qi¡¡ah menurut Mu¥ammad K±mil ¦asan secara terminologi adalah instrumen untuk mengungkapkan kehidupan atau kejadian-kejadian tertentu dari kehidupan yang mencakup satu atau beberapa peristiwa yang memiliki variabel dan fragmentasi awal dan akhir.

Dari defenisi di atas, terlihat bahwa beliau tidak memberikan batasan terjadinya kejadian atau peristiwa tersebut. namun perlu dipahami bahwa kisah tersebut tidak terlepas dari berbagai variabel dan memeliki alur kronologis. Berbeda halnya dengan Mann±’ Khal³l al-Qa¯¯±n yang memberikan batasan tentang qi¡¡ah dalam Alquran yakni tentang keadaan ummat pada masa lalu, nabi-nabi terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. 
Selanjutnya, ‘Abdul Kar³m al-Kh±¯ib menyatakan bahwa semua kisah dalam Alquran menceritakan ceritera yang terjadi pada masa lampau. Lebih lanjut, menurutnya bahwa bila dipahami lebih mendalam, maka kata khabar dan nab±’ juga bisa berarti cerita atau kisah. Beliau juga menyatakan bahwa kata khabar berkonotasi kisah yang lebih dekat waktunya dengan zaman pemberitaan, sementara nab±’ merupakan sebuah kisah yang sudah lama terjadi.

Meski Alquran banyak mengandung kisah-kisah orang-orang pada zaman dahulu, Alquran tetap saja tidak bisa dikategorikan sebagai salah satu kitab Sejarah. Klaim ini dapat dijelaskan paling tidak dari dua sisinya yakni bahwa meski Alquran mengandung banyak kisah, akan tetapi kisah itu sendiri bukanlah tujuan utama Alquran tersebut, yang menjadi tujuan utamanya adalah pelajaran yang bisa diambil dari kisah tersebut. Yang kedua adalah bahwa tidak semua kisah Alquran dapat dibuktikan kebenarannya. Menurut C. Andrew Rippin bahwa kisah dalam Alquran itu hanya bersifat salvation history yakni sejarah penyelematan. Pendapatnya ini sebenarnya tidak jauh beda dengan penjelasan bahwa tujuan utama kisah Alquran adalah pelajaran. Meski demikian ia menyatakan bahwa kisah Alquran itu tidak semuanya dapat dibuktikan kebenarannya.

Jadi tujuan utama dari kisah-kisah Alquran adalah bukan sejarah akan tetapi lebih kepada hikmah yang terkandung di dalamnya. Sejarah terfokus kepada kejadian faktual sedangkan hikmah lebih kepada pelajaran. Hikmah adalah hasil berpikir akan sesuatu yang didasari dengan kepercayaan terhadap Islam, yakni memikirkan secara radikal tentang sesuatu tapi cara berpikirnya dilandasi dengan kepercayaan terhadap Islam, hasilnya tersebutlah yang dinamakan hikmah.

Sedangkan menyoal mitsal dan amtsal pada Alquran, bahwa kedua term ini adalah sama, mitsal merupakan bentuk mufrad dari amtsal yakni permisalan. Permisalan dalam Alquran banyak ditemukan dengan berbagai bentuk ungkapan yang itu menyiratkan makna yang berbeda.

C. Macam-Macam Kisah Dalam Alquran.







Kisah-kisah yang terdapat dalam Alquran menurut Ahmad Jamil al-‘Umar³ dapat diklasifikasikan kepada tiga macam:

1. ¬Al-Qi¡¡ah al-Waqi’ah.
Adalah kisah yang benar-benar terjadi pada masa lampau agar manusia dapat memetik pelajaran dari kisah tersebut. Contoh kisah seperti ini adalah, kisah Q±bil dan H±bil yang terdapat dalam surah al-Maidah ayat 27-28:


وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ(27) لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ(28)

Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa". "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam." (QS al-Maidah: 27-28).

Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini adalah seperti yang diuraikan dalam ayat lain, yakni:
مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ(32)

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.(QS al-Maidah: 32).

2. Al-Qi¡¡ah at-Tamliyah.

Yakni kisah yang bersifat simbolik, yang mungkin terjadi pada masa dan tempat tertentu, seperti kisah yang terdapat dalam surah al-Kahfi:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلًا رَجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا(32)كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ ءَاتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئًا وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا(33)وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا(34)وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَنْ تَبِيدَ هَذِهِ أَبَدًا(35)وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِنْ رُدِدْتُ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِنْهَا مُنْقَلَبًا(36)

Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang.# Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu,# dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mu'min) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat".# Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: "Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,# dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu". (QS al-Kahfi: 32-36).

3. Al-Qi¡¡ah at-T±r³khiyah.

Yakni kisah-kisah yang bersifat kesejarahan yang mengetengahkan tokoh-tokoh dan tempat masanya. Misalnya kisah pengejaran Fir’aun terhadap nabi Musa as., seperti yang terdapat dalam surah Yunus ayat 90-91:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ ءَامَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي ءَامَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ(90)آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ(91)

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir`aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir`aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". # Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Yunus: 90-91).

Lain halnya dengan al-Umari, al-Qa¯¯±n membagi kisah kepada:
  • Kisah-kisah nabi-nabi terdahulu.
  • Kisah yang berhubungan dengan orang yang tidak disebutkan kenabiannya dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, seperti Dzulkarnain, A¡¥±b al-Kahfi, Talut dan Jalut.
  • Kisah-kisah yang terjadi pada masa Rasulullah Saw., seperti kisah perang Badar, Uhud. 

D. Bentuk Pengungkapan Kisah Dalam Alquran.

Menurut Mu¥ammad Bah±’i S±lim, ada dua bentuk pengungkapan kisah-kisah dalam Alquran, yakni:

1. Kisah yang tidak runut secra zamani.

Tidak ada ungkapan sejarah yang runtun dalam menerangkan keberadaan ummat, tempat, perkembangan, pergerakan, kebangkitan dan kehancurannya secara utuh. Demikian juga halnya dengan Alquran yang mengungkapkan kisah sesuai dengan tujuannya. Tidak jarang Alquran menjelaskan perkembangan sebuah ummat tapi tidak menjelaskan keruntuhannya, dan sebaliknya.

Terkadang, Alquran menjelaskan keadaan sebuah kaum atau ummat lalu setelahnya menjelaskan ummat yang sudah ada terlebih dahulu. Terkadang juga, Alquran menjelaskan keadaan dan perkembangan sebuah kaum hingga kehancurannya yang biasanya bersangkutan dengan kekufuran mereka terhadap Allah Swt. atau karena melakukan perbuatan-perbuatan tidak terpuji.

Contoh dari cara pengungkapan kisah seperti ini dapat dilihat pada kisah ummat ‘Ad yang hidup di sebelah Selatan jazirah Arabia. Allah memberikan mereka potensi yang bagus untuk menjadi kaum yang kuat secara ekonomis dan politik, tapi kemudian karena keingkaran mereka Allah Swt. menghancurkan mereka.

Hal ini dapat dilihat pada surah al-Fajr ayat 6-8:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ(6)إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ(7)الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ(8)
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Aad?,# (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,# yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain (QS al-Fajr: 6-8).

Selanjutnya pada ayat 11-14, Allah Swt. menyatakan:
الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ(11)فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ(12)فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ(13)إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ(14)
Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri,# lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu,# karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, # sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.(QS al-Fajr: 6-8).

Lalu pada ayat lain, yakni surah al-Qamar ayat 18-20, Allah Swt. berfirman:
كَذَّبَتْ عَادٌ فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ(18)إِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّ(19)تَنْزِعُ النَّاسَ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ(20)

Kaum `Aadpun telah mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.# Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus,# yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pokok korma yang tumbang.(QS al-Qamar: 18-20).

Demikian juga halnya dalam pengungkapan kisah-kisah sebuah pribadi, kebanyakan mengikuti pengungkapan kisah ummat seperti di atas tanpa ada keberurutan zaman, tidak diketahui kapan dilahirkan, di mana tempatnya, seperti pada kisah nabi Musa as. yakni pada surah Thaha ayat 9-24:

وَهَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى(9)إِذْ رَأَى نَارًا فَقَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي ءَانَسْتُ نَارًا لَعَلِّي ءَاتِيكُمْ مِنْهَا بِقَبَسٍ أَوْ أَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى(10)فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ يَامُوسَى(11)إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى(12)وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى(13)إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي(14)إِنَّ السَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى(15) فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَتَرْدَى(16)وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَامُوسَى(17)قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى(18)قَالَ أَلْقِهَا يَامُوسَى(19)فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى(20)قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى(21)وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَى جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ ءَايَةً أُخْرَى(22)لِنُرِيَكَ مِنْ ءَايَاتِنَا الْكُبْرَى(23)اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى(24)

Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? # Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu".# Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa.# Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.# Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).# Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. # Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.# Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa".# Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? # Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya".# Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" # Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. # Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, # dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mu`jizat yang lain (pula),# untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar, # Pergilah kepada Fir`aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas".(QS Thaha: 9-24).

Selanjutnya, pada ayat 38-41, Allah Swt. berfirman:
إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّكَ مَا يُوحَى(38)أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي(39)إِذْ تَمْشِي أُخْتُكَ فَتَقُولُ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَنْ يَكْفُلُهُ فَرَجَعْنَاكَ إِلَى أُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِي أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ عَلَى قَدَرٍ يَامُوسَى(40)وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي(41)

yaitu ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan, # Yaitu: 'Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir`aun) musuh-Ku dan musuhnya'. Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan supaya kamu diasuh di bawah pengawasan-Ku.# (yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia berkata kepada (keluarga Fir`aun): 'Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?" Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan; maka kamu tinggal beberapa tahun di antara penduduk Mad-yan, kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan hai Musa,# dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.(QS Thaha: 38-41).

2. Pengulangan Kisah.

Bentuk pengulangan merupakan usl­b Alquran dalam seluruh objek dab lapangan deskriptif Alquran yang tidak hanya dalam mengungkapkan kisah-kisah saja. Pengulangan itu berarti menunjukkan betapa besar perhatian terhadap objek-objek yang diulang tersebut, agar kaum mukminin bertambah teguh imannya.

Kisah-kisah yang diulang dapat dilihat pada kisah Nabi Daud yang diulang beberapa kali pada surah an-Naml dan surah Shad, atau kisah Nabi Ibrahim as. pada surah al-Anbiya’ dan al-Ankabut, atau kisah Nabi Musa as. pada surah al-Baqarah, Ali Imran, Thaha dan Maryam. Selain itu, ada juga kisah yang diuraikan hanya dalam satu surah saja, seperti kisah Q±run yang termuat dalam surah al-Qasas.

E. Pengulangan Kisah dan Tujuannya.

Alquran banyak mengandung berbagai kisah yang diceritakan secara berulang-ulang di berbagai tempat dan dengan berbagai bentuk ungkapan. Pada suatu ayat, bagian-bagian kisah ada yang didahulukan, sementara di tempat lain bagian itu diakhirkan, ada yang dikemukakan dengan ringkas, ada pula yang lebih rinci.

Pada pembahasan di atas, telah disinggung secara sederhana tentang pengulangan kisah-kisah dalam Alquran. Meskipun diulang di berbagai tempat dan dengan berbagai macam ungkapan, tapi pada dasarnya kisah itu dimaksudkan untuk bahan pelajaran bagi manusia.
Lebih lanjut lagi, al-‘Umar³ memandang bahwa pengulangan merupakan salah satu metode Alquran dalam memaparkan sebuah kisah. Menurutnya ada tiga macam bentuk pengulangan kisah dalam Alquran:

1. Pengulangan dengan pemusatan terhadap peristiwa atau kisah sepanjang kisah tersebut memenuhi tujuan pengulangannya.
2. Pengulangan dengan menyertakan nasehat dan ajaran di antara kisah tersebut.
3. Pengulangan kisah semata dengan beberapa tujuan tertentu.

Tapi apakah tujuan pengulangan kisah dalam Alquran semata-mata hanya untuk memberikan nasehat, atau menunjukkan betapa besar perhatian terhadap kasus yang diceritakan merupakan kajian yang menghasilkan beberapa kesimpulan yang menarik. Mann±’ al-Qa¯¯±n misalnya, ia mengemukakan bahwa ada empat tujuan pengulangan kisah-kisah dalam Alquran, yakni:

1. Untuk menunjukkan sastra Alquran sebagai sastra paling tinggi.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa salah satu keistimewaan Alquran adalah bahwa Alquran dapat mengulangi kisah yang sama dengan cara pengungkapan yang berbeda yang tetap indah. Pola pengungkapan kisah pada sebuah ayat tidak sama dengan pola pada ayat lain yang mengakibatkan para pembaca tidak merasa bosan. Selain itu, pengulangan dengan pola ungkapan yang berbeda sehubungan dengan variabel yang berbeda pula akan memunculkan makna baru yang berbeda.

2. Untuk menujukkan kehebatan mukjizat Alquran.

Artinya bahwa satu pola ungkapan kisah Alquran saja tidak dapat ditandingi oleh sastrawan Arab, lalu dengan demikian pengulangan kisah yang sama dengan pola ungkapan yang berbeda bertujuan untuk menegaskan kehebatan Alquran dan kelemahan mereka yang tidak bisa menandinginya.
3. Untuk menunjukkan perhatian besar pada kisah tersebut.
4. Untuk memberikan pesan yang berbeda atau pengulangan dengan tujuan yang berbeda pula.

Suatu kisah pada sebuah tempat dalam Alquran bisa mempunyai pesan dan tujuan, ketika diulangi pada tempat lain, kemungkinan pesan yang ingin disampaikan bisa berbeda dengan pesan yang pertama.
Lebih lanjut lagi, Mann±’ al-Qa¯¯±n mengemukakan bahwa ada enam faedah kisah di dalam Alquran:

1. Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah dan pokok syari’at yang dibawa oleh para nabi:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ(25)
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".(QS al-Anbiya’; 25)
2. Mengokohkan hati nabi Mu¥ammad Saw. dan ummatnya terhadap agama Islam dan memperkuat keyakinan kaum mukminin:
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَ 606;ْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ(120)

Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.(QS Hud: 120)
3. Membenarkan eksistensi nabi-nabi terdahulu.
4. Menyingkap kepalsuan ahli kitab:
كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ(93)

Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya`qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: "(Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar".(QS Ali Imran: 93).
5. Menujukkan kebenaran cerita nabi Mu¥ammad Saw. tentang keadaan ummat-ummat terdahulu.
6. Memunculkan ketertarikan pembaca, karena kisah merupakan salah satu bentuk sastra, dan juga untuk memantapkan pesan yang ada di dalamnya.


F. Kecenderungan Kisah-Kisah Jahiliyah dan Perbedaannya Dengan Kisah Alquran.

Bangsa Arab, pada umumnya, merupakan pedagang meskipun tidak juga sedikit yang hidup dari pertanian dan profesi lainnya. Perdagangan yang merupakan mayoritas pekerjaan orang Arab direkam dan dijadikan sebagai bahan ungkapan oleh Alquran. Banyak kata dan permisalan yang digunakan oleh Alquran “bersumber” dari istilah-istilah perdagangan seperti mi£q±l, miz±n, ajr, jaz±’, yattajir­n, ¥is±b, robi¥a, khasiro dan lain sebagainya.

Bangsa Arab juga merupakan bangsa yang mempunyai minat tinggi terhadap bahasa, mereka mempunyai kebiasaan mengirimkan anak-anak mereka untuk mempelajari bahasa kepedalaman. Mereka memberikan apresiasi yang sungguh besar bagi seseorang yang fa¡³h dan bal³gh dalam berbicara. Sastra merupakan salah satu bentuk kehormatan bagi mereka, tak heran jika beberapa genre sastra berkembang pesat di kalangan bangsa Arab kala itu. Mereka beradu kebolehan dalam menggubah karya sastra termasuk kisah-kisah secara rutin di pasar-pasar atau di tempat berkumpulnya orang-orang, karya yang paling bagus akan mendapatkan kehormatan untuk ditempelkan di dinding ka’bah, seorang sastrawan akan semakin terkenal dengan banyaknya mu’allaq±t yang ia ciptakan.

Karya sastra Jahiliyah paling disenangi biasanya berkisar pada hal, benda atau kejadian yang kasat mata, seperti wanita, unta, raja atau perang, maka tak heran jika puisi yang mereka gubah haruslah menggunakan kata-kata atau ungkapan hiperbola -yang tentu tidak terlepas dari unsur kebohongan- untuk memperindah karyanya.

Ketika Nabi Mu¥ammad SAW membacakan ayat-ayat suci, yang di dalamnya ada genre cerita yang indah dari segi bahasanya untuk saat itu, sontak saja mereka kaget dan mengakui keindahan susunan kata, fa¡l, ³z±z, ¡­rah bay±niyah, bal±ghah, ma’±n³ dan bad³’nya. Selain bahasa yang merupakan keindahan Alquran kala itu juga adalah kandungannya tentang cerita tentang ummat-ummat terdahulu.

Akan tetapi ketika keindahan itu disertai dengan pengakuan Mu¥ammad tentang risalah dan agama baru, meninggalkan agama lama dan berhala, mereka lantas tidak mau mengakui kebenaran ayat Alquran sebagai firman Tuhan.

Perbedaan karya sastra, khususnya kisah, Arab Jahiliyah dan kisah-kisah yang terdapat Alquran pun lalu terlihat pada tema, objek, pola pengungkapan dan kejujuran dalam bertutur. Perbandingan antara keduanya dapat diuraikan seperti berikut:
  • Tema-tema kisah-kisah Arab Jahiliyah berkisar pada kehidupan sehari-hari, sementara Alquran datang dengan tema-tema Abstrak yang relatif baru bagi mereka.
  • Objek-objek cerita Arab hanya berkisar kejadian atau hal-hal yang kasat mata, seperti kuda, perang, wanita, istana dan taman, semantara itu Alquran datang dengan tema kaum-kaum terdahulu yang tidak tersentuh oleh para sastrawan Arab.
  • Pola pengungkapan kisah Arab Jahiliyah adalah dengan menambahi keindahan karya dengan cerita-cerita yang menarik yang kemungkinan besar adalah bualan, sementara Alquran, selain objek yang menarik, bahasanya juga tertata dengan indah.
  • Kisah Arab biasanya hanya merupakan hiburan tanpa ada pesan mulia yang ingin disampaikan kepada pembaca, sementara semua kisah dalam Alquran selalu membawa pesan-pesan nilai mulia. 

Daftar pustaka
Daftar Pustaka
  • Al-Khalidi, ¢al±¥ Kisah-Kisah dalam Alquran, jil. 1. Jakarta: GIP, 1999.
  • ______________, Kisah-Kisah dalam Alquran, jil. 2. Jakarta: GIP, 1999.

  • Al-Qa¯¯±n, Mann±’ Kh±lil, Mab±¥³£ f³ Ul­m al-Qur’±n. Riyad: Maktabah Ma’±rif, 1988.

  • Al-‘Umar³, A¥mad Jam±l, Dir±s±t f³ al-Qur’±n wa as-Sunnah. Kairo: D±r Ma’±rif, 1982.

  • B±q³, Mu¥ammad Fu’±d ‘Abdul, Taf¡³l Ayat al-Qur’±n al-¦ak³m. Jazirah: ‘Isa al-B±b al-Halab³, 1955.

  • Esposito, John L., Dunia Islam Modern I, terj. Eva dkk. Bandung : Mizan, 2002.

  • ¦asan, Mu¥ammad K±mil, al-Qur’±n wa al-Qi¡¡ah al-Had³£ah. Beirut: D±r Bu’­£ al-Ilmiyah, 1970.

  • ¦±kim, M. Baqir, Ulumul Quran, terj. Jakarta: Al-Huda, 2006.

  • H±sy³m³, A., Jaw±hir Al-Adab. Beirut : D±r Kutub, 1996.

  • Khalil, Munawwar, Al-Qur’an Dari Masa ke Masa. Solo:Ramadhani, 1985.

  • Kh±¯ib, ‘Abd al-Kar³m, Al-Qa¡a¡ f³ al-Qur’±n f³ Man¯­qihi wa Mafh­mihi. Kairo; D±r F³kri, 1965.

  • Ma’l­f, Louis, al-Munjid f³ al-Lughah wa al-A’l±m. Beirut: D±r Masyriq, 1986.

  • S±lim, Mu¥ammad Bah±’i, Al-Qur’±n al-Kar³m wa as-Sul­k al-Ins±n³ . Mesir: al-Maktabah al-Hai’ah al-‘²mmah li al-Kit±b, 1987.

  • Shihab, Quraish, Membumikan Alquran. Bandung: Mizan, 1992.

  • ______________, Mu’jizat Alquran. Bandung: Mizan, 1998.

  • Tauf³k Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Alquran.Yogyakarta : Forum kajian dan Budaya, 2001.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...