Pengertian SAMPEL

Suatu penelitian, khususnya peneilitian yang dimaksudkan untuk menarik generalisasi (menarik kesimpulan umum yang berlaku bagi suatu populasi), sangat kepentingan dengan permasalahan sampel; permasalahan tentang bagaimana mengambil sampel dari sesuatu populasi, sehingga hasil-hasil peneilitian terhadap sampel atau contoh tersebut dapat melahirkan kesimpulan yang berlaku umum bagi seluruh populasi.

Permasalahan sampel (rancangan dan teknik pengambilan sampel) sangat penting bagi suatu penelitian yang berkepentingan untuk menarik kesimpulan umum bagi sesuatu populasi. Munculnya permasalahan sampel, karena dalam suatu penelitian, tidaklah realistis meneliti seluruh populasi, lebih-lebih untuk untuk populasi yang sangat luas. Penelitian tentang jumlah pemilikan tanah (lahan) pertanian dikalangan keluarga-keluarga tani disesuatu provinsi misalnya, tentunya tidak realistis meneliti seluruh petani di Provinsi bersangkutan; tidak realistis meneliti seluruh populasi keluarga tani di Provinsi bersangkuta. Untuk itu, perlu peneliti perlu mengambil sebagian dari populasi tersebut; pengambilan yang sebagian itu, dimaksudkan sebagai repsentasi seluruh populasi, sehingga kesimpulan-kesimpulannya juga berlaku bagi keseluruhan populasi yang diwakilinya. 1

Dalam pengambilan sampel, diperlukan rancangan atau teknik yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga sampel diambil, bisa benar-benar berfungsi sebagai repsentasi atau wakil sesuatu populasi. Dan bila berfungsi refsentasi tersebut tak terpenuhi secara memadai, maka hasil penelitiannya juga tidak memadai untuk diperlakukan bagi seluruh populasi. 2 

B. Manfaat Sampel

Sampel adalah untuk memperoleh data yang representative dalam kaitanya dengan populasi yang menjadi sasaran penelitian. Bila metode pengambilan sampel yang dipakai tepat, diharapkan individu-individu sampel yang diobservasi maupun mewakili seluruh anggota populasi dan mampu memberi informasi yang terkait dengan populasi yang diteliti. Informasi yang diperoleh akan menjadi bahan baku bagi pengambilan keputusan. Dalam hal ini agar informasi yang diperoleh bisa memenuhi tujuan tersebut dibutuhkan ketepatan dari data yang dikumpulkan. Agar data yang diambil berguna maka data tersebut haruslah objektif (sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya), representative (mewakili keadaan yang sebenarnya), variasinya kecil, tepat waktu dan relevan untuk menjawab persoalan yang sedang menjadi pokok bahasan.

Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penggunaan metode pengambilan sampel yang tepat agar dari sampel yang diambil dapat diperoleh statistik yang dapat digunakan sebagai penduga bagi parameter populasi. Statistik yang diperoleh akan menjadi penduga (estimator) yang baik jika memenuhi syarat. 3

C. Populasi

Populasi : Seluruh penduduk yang dimaksudkan untuk diselidiki disebut populasi atau universum. Populasi dibatasi sebagai sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama.

Istilah penduduk pada hakekatnya tidak saja menunjuk sejumlah individu yang berwujut manusia, akan tetapi, juga sejumlah kambing, kelinci, tikus, padi, barang-barang dagangan, batu dan sebagainya. Adapun sifat yang sama itu dapat merupakan sifat dasar bawaan kodrat, seperti misalnya orang-orang yang lahir di Indonesia, Jenis kelamin, orang yang rambutnya tegak, tikus yang putih warnanya, batu karang, dan sebagainya. Akan tetapi, disamping itu sifat yang dipersoalkan dapat juga bukan sifat bawaan, seperti misalnya anak-anak yang sedang bermain-main, murid-murid dari suatu tingkat sekolah, orang-orang dikawinkan bersilang, atau benda-benda alam lainnya yang telah diubah sifat kodratnya. Jadi, kalau kita hendak menyelidiki taraf perkembangan kecerdasan murid-murid laki-laki sekolah kelas VI, misalnya, maka sifat yang sama dari populasi ini adalah :
  • Jenis kelamin – sifat kodrat
  • Mereka semua murid-murid SD – sifat bukan kodrat
  • Mereka semua duduk di kelas VI – sifat bukan kodrat, sifat pengkhususan. 4
D. Elemen Sampel

Elemen sampel ialah unit-unit analisis yang dapat berupa individu, kelompok, organisasi, dokumen tertulis, pesan simbolik atau berupa aksi social yang dapat diukur. Kalau misalnya anak-anak SD yang 300 orang tadi yang dijadikan sebagai sampel penelitian, maka elemen sampelnya ialah individu-individu anak-anak SD yang berjumlah 300 orang tadi. 5

Penentuan Nilai n (Besar atau Banyaknya Elemen Sampel)

Menurut (J. Supranto : 113-118) dalam praktek seringkali timbul pertanyaan, berapa besarnya n agar sebagai pendugaan parameter cukup baik.

Perhatikan

Kalau n = N

Agar pendugaan sama dengan nilai sebenarnya, maka n = N, berarti harus diadakan sensus yang membutuhkan biaya mahal.

Untuk menentukan nilai nilai n , ada 3 faktor yang harus diperhatikan:

1. berapa besarnya yang akan ditolerir. Kalau menghendaki maka n = N , sebab merupakan ukuran tingkat ketelitian.

2. tingkat heterogenitas/ variasi dari data populasi (nilai karakteristik/ variabel 0 yang akan diselidiki, yang akan dinyatakan dalam besar kecilnya nilai (simpangan baku).

3. besarnya tingkat keyakinan yang akan digunakan, untuk menjamin peryataan (statement) dari pendugaan yang dihasilkan.

Rumusanya adalah sebagai berikut.

di mana nilai adalah dari Tabel Normal

catatan:

suatu sampel acak sebanyak n elemen di mana: X1,X2,…..,Xi,…..,Xn dipilih dari suatu populasi dengan rata-rata dan simpangan baku .

. Apabila populasi normal yaitu

juga normal, yaitu =

Seandainya populasi tak normal akan tetapi sample cukup besar, juga mendekati normal menurut “Central Limit Theory” (Dalil Batas Memusat).

= Standar normal

perhatikan untuk fungsi kontinu, berlaku:

akan sama dengan



Contoh : 1

Seorang ahli analisis pasar akan memperkirakan harta telur ayam negeri di suatu kota besar. Berdasarkan pengalaman masa lampau telah diketahui besarnya simpangan baku = 16 rupiah.

Ahli analisis pasar tersebut ingin 95% yakin bahwa e di dalam pendugaan rata-rata harga telur pasar sesungguhnya m tidak lebih dari plus atau minus 2 rupiah (+2), maksudnya ialah bahwa :



Berapa besarnya nilai n = banyaknya pasar/toko/warung yang menjual telur ayam negeri yang harus diselidiki?



PENYELESAIAN

= perkiraan rata-rata sebenarnya m

a = 5%, Za/2 = 1,96
Ahli analisis pasar harus memilih n sedemikian rupa sehingga e = 1,96
Jadi n = observasi.

(n = banyaknya pasar/toko/warung yang menjual telur ayam negeri dengan harga yang berbeda-beda).

Untuk mengestimasi (menduga) proporsi, dipergunakan rumus berikut.

Contoh : 2

Seorang kepala pabrik yang bertanggung jawab tentang mutu barang ingin mengestimasi besarnya proporsi/persentase barang yang rusak. Dia ingin 95% yakin bahwa pendungan proporsi untuk mengestimasi p dengan e = 0,04 dimana .

PENYELESAIAN

Jadi, untuk mendapatkan pendugaan proporsi dengan kesalahan sebesar + 0,04 paling sedikit harus menyelidiki sebanyak n = 600 buah barang.

Contoh : 3

Kita ingin mengestimasi proporsi atau persentase (ingat: persentase = proporsi x 100%) dari penduduk suatu kota yang lebih senang barang impor daripada barang dalam negeri. Berapakah besar sampel (banyak penduduk) yang harus diinterview, dengan tingkat keyakinan 95% dan kesalahan penarikan sampel lebih kecil dari 0,02 atau 2%.

PENYELESAIAN

= 0,02 atau 2%

n = (0,25)

Jadi, banyaknya penduduk yang harus diinterview paling sedikit 2.401 orang.

Seandainya secara kasar diketahui bahwa proporsi yang senang barang impor p = 0,80 (=80%) maka rumus untuk n, adalah :

Jadi, pengetahuan tentang nilai P walaupun kasar, dapat mengurangi/memperkecil besarnya sampel.

ISTILAH PENTING

Penarikan sampel acak sederhana : penarikan sampel dimana pemilihan elemen-elemen populasinya dilakukan sedemikian rupa sehingga setiap elemen mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih.

Pemilihan sampel acak tanpa pengembalian : metode pemilihan sampel di mana elemen-elemen yang sudah terpilih tidak ditempatkan kembali untuk terpilih lagi.

Pemilihan sampel acak dengan pengembalian : metode pemilihan sampel di mana elemen-elemen yang sudah terpilih ditempatkan kembali untuk bisa dipilih kembali.

Distribusi penarikan sampel dari X : distribusi probabilitas dari seluruh kemungkinan nilai-nilai dari rata-rata sampel X.

Pendugaan tunggal : pendugaan yang terdiri dari satu nilai saja.

Statistik induktif : pengambilan kesimpulan mengenai nilai sebenarnya dari parameter yang didasarkan atas perhitungan sampel.

Pendugaan internal : pendugaan yang mengambil nilai dalam suatu selang dengan tingkat kepercayaan tertentu.

RINGKASAN RUMUS

1. Nilai harapan (rata-rata) dari

, sampel tanpa pengembalian

, sampel dengan pengembalian

2. Varians dari

, untuk populasi terbatas

, untuk populasi tak terbatas

3. Standar deviasi dari

, untuk populasi terbatas

, untuk populasi tak terbatas

4. Pendugaan interval rata-rata m

§ Sampel besar (n > 30), s diketahui

, pupulasi tak terbatas atau populasi terbatas tetapi pengambilan sampel dengan pengambilan.

, populasi terbatas dan
Sampel kecil (n < 30), s tidak diketahui 5. Pendugaan interval proporsi P 6. Pendugaan interval beda dua rata-rata § Untuk n > 30, dan diketahui

§ Untuk n < 30, dan tidak diketahui

7. Pendugaan interval selisih/beda antara dua proporsi

8. Pendugaan interval untuk dan s

9. Penentuan besarnya ukuran sampel (n)

E. Kerangka Sampel

Kerangka sampling ialah daftar semua unsur sampel dalam populasi sampel. Kerangka sampel dapat berupa daftar mengenai jumlah penduduk, jumlah bangunan, mungkin pulah sebuah peta yang uit-unitnya tergambar secara jelas. Sebuah kerangka sampel yang baik harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (1) harus meliputi seluruh unsur sampel (tidak satu unsur pun yang tertinggal); (2).tidak ada unsur sample yang dihitung dua kali; (3).Harus up to date; (4).batas-batasnya harus jelas, misalnya batas wilayah, rumah tangga (siapa-siapa yang harus menjadi anggota rumah tangga); 5. harus dapat dilacak di lapangan; jadi hendak nya tidak terdapat misalnya: beberapa dukuh dengan nama yang sama.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai kerangka sampel:

1). Kerangka sampling untuk individu atau rumah tangga

Dalam pembentukan kerangka sampel untuk individu atau rumah tangga, yang terutama perlu diperhatikan ialah syarat 3 dan 5. Misalnya dalam penelitian fertilitas, masalah up to datenya data untuk kerangka sampel adalah sangat penting. Hal ini disebabkan karena banyaknya mobilitas penduduk dan adanya pembentukan keluarga baru, dan semua itu erat hubungannya dengan perkawinan ,kehamilan dan kelahiran. Di masyarakat kita, banyak istri yang hamil pulang kembali ketempat ibunya pada waktu akan melahirkan,dan kembali lagi ke tempat suaminya beberapa minggu setelah melahirkan. Berdasarkan alasan-alasan di atas. Maka dianjurkan untuk tidak menggunakan daftar registrasi penduduk untuk kerangka sampel, kecuali kalau daftar itu dibuat oleh petugas lapangan atau daftar registrasi itu baru saja dibuat.

2) Kerangka sampel untuk bangunan

Di jawa, sebuah bangunan pada umumnya terdiri dari sebuah rumah tangga, namun demikian kadang-kadang ada satu bangunan yang di diami oleh lebih dari satu rumah tangga.Kerangka sampel bangunan lebih stabil (kurang mengalami perubahan) di bandingkan dengan rumah tangga. Dalam beberapa hal, kerangka sampel bangunan dapat menggantikan kerangka sampel rumah tangga. Setelah menyeleksi sampel bangunan, lalu diteliti semua rumah tangga yang terdapat pada sampel bangunan itu. Daftar bangunan di daerah pedesan kurang lengkap, karena sering belum memasukkan bangunan-bangunan yang sudah di bongkar. Daftar bangunan itu biasanya dapat dibuat lebih mudah dan cepat, karena tidak harus mewawancarai seseorang. Untuk memudah kan penentuan lokasinya, bangunan-bangunan itu dapat dipetakan dan tiap bangunan diberi nomor urut.

3). Kerangka sampel wilayah

Untuk menghemat waktu dan biaya, sampel rumah tangga harus terletak pada wilayah yang tidak begitu luas. maka kita dapat membaginya menjadi wilayah-wilayah yang lebih sempit dengan pertolongan peta, dan mempergunakan batas alam (sungai, jalan, pagar dan sebagainya). 7

F. Unit Analisa

Unit Analisa ialah unit yang akan diteliti atau penelitian. Dalam Pembicaraan tentang populasi atau universe diatas, seluruh Petani di daerah penelitian merupakan unit penelitian atau unit elementer. Seiring unit penelitian sama dengan unsur sampel, misalnya kita mengambil Petani-petani sebagai sampel, dan Petani tersebut juga yang akan diteliti.

Kadang-kadang unit penelitian tidak sama dengan unsure sampel. Sebagai contoh pada pembicaraan tentang populasi atau universe di atas, kita mengambil Rumah tangga sebagai sampel (jadi Rumah Tangga adalah sebagai sampel), sedangkan yang diteliti hanyalah Anggota Rumah Tangga Kabupaten sebagai pengurus unit penelitian. 8

G. Sampel Probalitas dan Non Probalitas

1. Pengambilan Sampel Probabilitas / Acak

Pengambilan sampel probabilitas / acak adalah suatu metode pemilihan sampel, di mana setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Metode ini sering disebut sebagai prosedur yang terbaik. Dari beberapa cara pengambilan sampel dengan metode ini, tiga diantaranya dipaparkan berikut ini.

a. Cara Acak Sederhana (Simple Random Sampling)

Ada beberapa cara pengambilan sampel dengan teknik ini, dua dianataranya yang sering digunakan dalam riset bisnis dijelaskan berikut:

Cara Undian

Cara ini memberi nomor-nomor pada seluruh anggota populasi, lalu secara acak dipilih nomor-nomor sesuai dengan banyaknya jumlah sampel yang dibutuhkan. Ada dua cara pengambilan sampel dengan cara ini. Yang pertama adalam pengambilan sampel tanpa pengembalian dengan cara mengembalikan sampel yang terpilih sehingga nilai probabilaitas menjadi konstan.

Cara Sistematis/Ordinal

Cara ini merupakan teknik untuk memilih anggota sampel melalui peluang dan teknik di mana pemilihan anggota sampel dilakukan setelah terlebih dahulu dimulai dengan pemilihan secara acak untuk data pertama, sedangkan data berikutnya menggunakan interval tertentu. Misalnya, akan diambil sampel sebanyak 100 dari 1000 anggota populasi. Kita akan memilih data pertama dari sampel pertama secara acak antara 1 sampai 10. Jika terambil nomor 4 maka untuk data kedua akan diambil sampel kedua, yaitu nomor 14 dan seterusnya. Agar sampel dapat terdistribusi dengan baik, maka polpulasi harus juga dibuat acak, jangan diurut, misal kalau kita akan memilih nama-nama orang dari suatu perusahaan, janganlah nama-nama itu diurutkan berdasarkan struktur organisasi yang ada, nanti yang diambil tidak menyebar ke seluruh bidang yang ada di dalam perusahaan.

b. Cara Stratifikasi (Stratified Random Sampling)

Suatu populasi yang dianggap heterogen menurut suatu karakteristik tertentu dikelompokkan ke dalam beberapa populasi, sehingga setiap kelompok akan memiliki anggota sampel yang relative homogen. Lalu dari tiap sub-populasi ini secara acak diambil anggota sampelnya. Dasar penentuan strata bisa dilakukan secara geografis atau dengan cara lainnya.

c. Cara Kluster (Cluster Sampling)

Pengambilan sampel dengan cara ini mirip dengan cara stratifikasi di atas. Bedanya, jika cara stratifikasi mengakibatkan adanya sub-populasi yang unsur-unsurnya homogen. Maka dengan cara kluster, unsur-unsurnya menjadi heterogen. Selanjutnya, dari masing-masing kluster dipilih sampel secara random sebanyak yang dibutuhkan. Cluster Sampling sering digunakan misalnya dalam penyebaran kuesioner di wilayah tetentu yang memang respondennya heterogen.

2. Pengambilan Sampel Non-Probabilitas/Non Acak

Dengan cara ini semua elemen populasi belum tentu memiliki peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Hal ini terjadi, misalnya karena ada bagian tertentu secara sengaja tidak dijadikan sampel berdasarkan pertimbangan, karena dalam pelaksanaannya digunakan pertimbangan tertentu oleh periset.

Berikut ini dipaparkan lima macam teknik sampel yang non probabilitas.

a. Cara Keputusan (Judgment Sampling)

Cara ini sebagian buku teks dianggap sama dengan Purposive Sampling, misalnya dipakai pada saat kita ingin mengetahui pendapat karyawan tentang produk yang akan dibuat. Peneliti telah beranggapan bahwa karyawan akan lebih banyak tahu daripada orang-orang lain, peneliti telah melakukan pertimbangan. Cara ini lebih cocok dipakai pada saat tahap awal studi eksploratif.

b. Cara Kuota (Quato Sampling)

Apabila riset diarahkan untuk mengkaji suatu fenomena dari beberapa sisi, responden yang akan dipilih adalah orang-orang yang diperkirakan dapat menjawab semua sisi itu. Misalnya, akan diteliti perihal aktivitas mahasiswa di kelas, membaca buku-buku perpustakaan, turut serta dalam riset-riset kecil. Sasaran kuesioner diarahkan pada dosen-dosen yang aktif mengajar, aktif juga berada di perpustakaan, dan aktif dalam riset. Dosen-dosen seperti jika dijadikan sampel dapat digunakan sebagai wakil dari populasi seluruh dosen yang ada.

c. Cara Dipermudah (Convinience Sampling)

Sampel ini nyaris tidak dapat diandalkan, tetapi biasanya paling murah dan cepat dilakukan karena peneliti memiliki kebebasan untuk memilih siapa saja yang mereka temui. Meskipun ada ketidakteraan dalamnya, cara ini masih bermanfaat, misalnya pada tahap awal penelitian eksplororatif saat mencari petunjuk-petunjuk penelitian. Hasilnya dapat menunjukan bukti-bukti yang berlimpah, sehingga prosedur pengambilan sampel yang lebih canggih tidak diperlukan lagi.

d. Cara Bola Salju (Snowball Sampling)

Cara ini adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih responden lain untuk dijadikan sampel lagi, begitu seterusnya sehingga jumlah sampel terus menjadi banyak.

e. Area Sampel

Pada prinsipnya cara ini menggunakan perwakilan bertingkat. Populasi dibagi atas beberapa bagian populasi, dimana bagian populasi ini dapat dibagi-bagi lagi. Dari bagian populasi yang paling kecil diambil sampel sebagai wakilnya untuk masuk kepada bagian populasi yang lebih besar. Dari bagian populasi yang lebih besar ini akan diambil lagi sampel yang akan dipakai lagi dan seterusnya. 9

H. Ukuran Sampel

Ukuran besarnya sampel yang harus diambil dalam suatu penelitian agar hasil penelitian tersebut dapat dikatakan valid (sah) merupakan suatu masalah dasar yang seringkali muncul dari pihak yang hendak melakukan penelitian dengan mengunakan sampel. Pertanyaan ini muncul berkaitan dengan tujuan dari pengambilan sampel adalah untuk memperoleh informasi mengenai parameter populasi tertentu dengan korbanan minimum. Secara umum kita dapat memutuskan besar ukuran sampel bila kita mengetahui batas atas kesalahan pendugaan dari penelitian kita. Disamping itu keputusan mengenai ukuran sampel dapat ditetapkan atas dasar informasi keragaman (variabilitas) dari individu-individu penyusun populasi dari tingkat ketelitian yang diinginkan oleh si peneliti.

Dalam prakteknya dua criteria terakhir ini saling terkait erat. Dalam hal ini semakin besar keragaman dari individu-individu yang merupakan anggota populasi semakin besar pula ukuran sampel yang diperlukan agar semakin banyak informasi yang dapat diambil. Untuk kasus yang demikian, pengambilan sampel dalam jumlah kecil mungkin tidak dapat mewakili populasi Karena perbedaan karakteristik antar individu-individu anggota populasi relative memiliki karakteristik yang seragam, sampel yang berukuran kecil akan mampu memberikan jumlah informasi yang tidak jauh berbeda dengan jumlah informasi yang diperoleh dari sampel yang berukuran besar.

Untuk kasus ini dapat dicontohkan hasil tes golongan darah seseorang. Sebagaimana diketahui, untuk mengetahui golongan darah seseorang pada umumnya hanya dilakukan satu kali pemeriksaan. Hal itu dimungkinkan karena keseragaman darah yang sangat tinggi sehingga walaupun dilakukan tes beberapa kali hasil yang diperoleh akan tetap sama. Dalam kasus-kasus yang demikian memilih sampel yang berukuran besar hanya akan memboroskan waktu dan uang. Dalam kaitannya dengan kemantapan derajat akurasi dalam pendugaan, kita juga membutuhkan ukuran sampel yang semakin besar bila kita menginginkan peningkatan derajat akurasi pendugaan.

Mengingat pentingnya masalah ukuran sampel dalam kaitannya dengan tingkat akurasi yang ingin diperoleh maka dalam makalah ini penentuan besarnya ukuran sampel akan mendapatkan tempat khusus. Meskipun untuk ketepatannya perlu digunakan metode statistika dalam menentukan jumlah sampel yang harus diambil, pada umumnya untuk tahap awal ataupun untuk peneliti pemula, sampel diambil sekitar 10 persen dari total individu populasi yang diteliti. Bilamana sampel 10 persen dari populasi masih dianggap besar (lebih dari 30) maka alternative yang biasa digunakan adalah mengambil sampel sebanyak 30, dengan pertimbangan ukuran sampel tersebut telah dapat memberikan ragam sampel yang telah stabil sebagai pendugaan ragam populasi. Dari informasi ragam sampel yang diperoleh tersebut dapat diperkirakan ukuran sampel yang tepat/mewakili, pada tahap selanjutnya dengan mengunakan formula penentuan ukuran sampel yang memadai tergantung pada metode pemilihan sampel yang digunakan.

Bila berdasarkan formula yang digunakan diperoleh ukuran sampel yang lebih besar daripada yang telah diambil pada tahap pendahuluan (tahap penjagaan), misalnya pada tahap penjagaan diambil 30 unit sampel ternyata setelah diperoleh informasi tentang penduga ragam populasi dan atau rata-rata populasi dari 30 unit sampel tersebut yang kemudian nilainya dimasukkan dalam formula perhitungan ukuran sampel yang memadai ternyata diperoleh ukuran sampel 50, maka kekurangan unit sampelnya harus diambil kembali dari populasi yang sama. Setelah tahapan pengambilan seluruh unit sampel yang memadai tercapai, maka tahap selanjutnya adalah melakukan obsevasi terhadap individu-individu sampel yang terpilih dalam kaitannya dengan karakteristik yang diteliti. Setelah itu atas dasar data yang diperoleh dilakukan pendugaan terhadap parameter populasi yang mana hasilnya akan digunakan untuk mengambil kesimpulan tentang karakteristik populasi yang dihadapi. 10

I. Kesalahan Sampel

Perlu disadari dimungkinkannya kesalahan dalam pengambilan sampel. Secara umum didapati adanya beberapa sumber kesalahan dalam pengambilan sampel, yaitu :

Variasi Acak (Random variation)

Variasi acak merupakan sumber kesalahan sampel yang paling umum dijumpai. Sebagai contoh, misalnya seorang pemilik supermarket tertarik untuk menghitung rata-rata pendapatan per rumah tangga dalam suatu daerah tertentu. Informasi yang diperoleh akan dijadikan dasar pertimbangan bagi penyediaan jenis produk bagi masyarakat di daerah tersebut. Seandainya dalam pelaksanaan pengambilan sampelnya, yaitu dalam pemilihan suatu sampel acak rumah tangga diperoleh rata-rata pendapatan rumah tangga sebesar Rp. 250 juta per tahun untuk daerah tersebut, dalam hal ini kita bisa saja bercuriga bahwa sampel yang diambil mengandung kesalahan pendugaan, yakni secara kebetulan semua sampel yang dipilih mungkin berada dalam kelompok yang berpendapatan tinggi. Untuk kasus-kasus demikian hadirnya kesalahan pendugaan agak mudah terdeteksi bila informasi yang diperoleh jelas meragukan, namun jika kesalahan pendugaan tidak bengitu besar, tentunya kesalahan yang muncul menjadi sulit terdeteksi sehingga pada akhirnya informasi yang diperoleh akan mengarah pada pengambilan kesimpulan yang keliru.

Sebagai contoh, jika dari pengambilan sampel untuk kasus yang sama diperoleh rata-rata pendapatan rumah tangga sebesar Rp. 10 juta (yang dalam hal ini mungkin masih dianggap tinggi tetapi dapat dipercaya), maka berdasarkan rata-rata pendapatan rumah tangga yang dianggap cukup tinggi itu, pemilik supermarket boleh jadi secara keliru mengasumsikan bahwa di daerah tersebut terdiri dari sangat sedikit keluarga yang berpendapatan sedang sampai rendah, sehingga pemilik supermarket tersebut memutuskan untuk tidak memasarkan lini produk yang murah yang dianggap lebih menarik bagi mereka yang berada dalam komunitas yang berpendapatan sedang hingga lebih rendah. Dalam kaitannya dengan kesalahan yang ditimbulkan oleh variasi acak, peneliti hanya dapat meminimumkan munculnya kesalahan yang disebabkan oleh variasi acak dengan memilih rancangan penarikan sampel yang tepat.

Kesalahan Spesifikasi (mis-specification of sampel subjects)

Kesalahan yang diakibatkan oleh kekeliruan spesifikasi sangat umum dijumpai dalam pengambilan pendapat untuk pemilihan umum. Sebagai contoh populasi sebenarnya yang hendak dipelajari untuk survai pemilihan terdiri dari mereka yang akan memilih pada hari pemilihan, namun survai pemilihan umum biasanya secara khas mengambil opini dari pendapat para pemilih yang terdaftar, walaupun dalam kenyataanya banyak diantara mereka tidak akan memilih pada hari pemilihan umum. Kesalahan spesifikasi dapat juga muncul karena daftar unsur populasi (population frame) yang tidak benar, informasi yang tidak benar pada buku catatan inventori, pemilihan anggota sampel yang keliru (seperti misalnya melakukan penggantian responden yang dituju dengan tetangga jika responden yang seharusnya ditemui tidak berada ditempat), sensivitas pertanyaan, kesalahan dalam pengumpulan informasi tentang sampel yang sisebabkan oleh pewawancara yang disengaja atau tidak disengaja, atau kesalahan-kesalahan dalam memproses infomasi sampel. Bila diperhatikan nampak bahwa semua kasus yang disebutkan tersebut sebenarnya dapat dikendalikan; namun dalam kasus-kasus lainnya seperti misalnya kesalahan pengukuran dimensi kayu gelondangan atau kayu papan yang megembang bersamaan dengan menumpuknya kelembaban penyebabnya tidak dapat dikendalikan.

Kesalahan yang disebabkan oleh salah spesifikasi populasi juga terjadi dalam survai pemilihan konsumen, dengan contoh umumnya hanya terdiri dari para ibu rumah tangga tidak menyertakan kaum laki-laki, wanita yang bekerja dan mahasiswa karena keadaan mereka yang relative tidak memungkikan terjangkau.

Untuk meminimumkan peluang munculnya kesalahan yang disebabkan oleh salah spesifikasi, peneliti dapat membuat pernyataan yang sangat hati-hati tentang tujuan survai pada permulaan studi, sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas tentang unsure-unsur yang membentuk populasi. Yang terpenting dari semua ini peneliti harus sangat hati-hati dalam mengungkapkan kesimpulan tentang populasi actual dari mana informasi sampel ditarik dan bukan menurut kondisi populasi lainnya yang jauh lebih menarik, yang barangkali hanya dalam bentuk konseptual.

1. Kesalahan Penentuan Responden

Sumber kesalahan tambahan dalam survai sampel adalah disebabkan oleh kesalahan penetapan responden dari beberapa anggota sampel. Pada umumnya para peneliti mengasumsikan bahwa responden dan nonresponden mewakili lapisan-lapisan serupa dari populasi padahal sebenarnya ini merupakan kasus yang jarang terjadi. Sebagai contoh dalam survai konsumen yang menjadi nonresponden umumnya adalah kaum pekerja dan responden biasanya adalah ibu rumah tangga, dalam survai pendapat umum nonresponden (mereka yang menyatakan “tidak punya pendapat”) biasanya adalah anggota-anggota sampel yang sudah sangat mapan, yang pada umumnya lebih menyukai hal-hal seperti apa adanya. Peneliti dapat menyukai efek yang jauh lebih langsung terhadap kesalahan akibat ketidaktepatan penentuan responden. Usaha-usaha yang berkesinambungan dapat dilakukan untuk mencari responden yang tepat atau dalam kasus-kasus tertentu responden dapat digantikan dengan yang lain yang dipilih secara acak.

Dalam kaitannya dengan kesalahan sampel, pengalaman adalah petunjuk terbaik untuk digunakan dalam mengenali sumber kesalahan dalam survai sampel. Para individu atau badan yang merancang atau melakukan berbagai survai dari tipe tertentu (misalnya pendapat umum, penelitian pasar, audit, audit persediaan dsb) mengembangkan reputasi untuk mengantisipasi adanya kemungkinan perangkap tertentu yang mungkin ada dalam survai. Atas dasar pengalaman yang diperoleh, mereka akan lebih mampu merancang sampel dan metode survai untuk menghindari sumber dan kesalahan umum yang dapat dikendalikan sekaligus memimumkan dampak dari sumber kesalahan yang dapat dikendalikan.

2. Kesalahan Karena Ketidaklengkapan Cakupan Daftar Unsur Popupasi (Converage Error)

Salah satu kunci sukses dari pemilihan sampel yang “baik” adalah ketersediaan daftar unsur populasi (population frame) lengkap yang relevan. Kesalahan karena ketidaklengkapan cakupan daftar unsur populasi (Converage error) timbul karena ketidaktersediaan daftar kelompok tertentu didaftar unsur populasi. Kondisi tersebut menjadikan individu anggota kelompok tersebut tidak berpeluang untuk terpilih sebagai sampel dalam kondisi demikian hanya akan menghasilkan dugaan karakteristik dari populasi sasaran (target population), bukannya karakteristik dari populasi yang sebenarnya (actual population).

3. Kesalahan Karena Ketidaklengkapan Respon (Nonresponse error)

Tidak setiap responden berkenaan merespon suatu survai. Pengalaman menunjukkan bahwa individu-individu yang berada di kelas ekonomi atas dan bawah cenderung kurang merespon survai dibandingkan dengan mereka-mereka yang berada di kelas menengah. Kesalahan karena ketidaklengkapan respond (Nonresponse error) muncul dari kegagalan untuk mengumpulkan data dari semua individu dan sampel. Dengan pertimbangan bahwa jawaban dari individu dalam sampel yang merespon belum tentu sama dengan jawaban dari individu sampel. Dengan pertimbangan bahwa jawaban dari individu sampel yang merespon, sangatlah penting untuk menindaklanjuti tanggapan responden yang tidak memberi respon atau yang merespon tetapi tidak secara lengkap setelah suatu periode waktu tertentu. Beberapa upaya dapat dicoba (misalnya melalui surat atau telephone) untuk meyakinkan responden yang demikian agar mereka berkenan merubah pendiriannya. Bila upaya tersebut membuahkan hasil, informasi tambahan yang diperoleh dapat digabungkan dengan informasi awal yang mereka berikan untuk menyakinkan validitas hasil survai.

4. Kesalahan Penarikan Sampel (Sampling Error)

Diyakini bahwa sampel yang “baik”, merupakan miniature dari populasi. Meskipun demikian pengambilan sampel berulang-ulang biasanya menghasilkan besaran suatu karakteristik populasi yang berbeda-beda antar sampel ke sampel lainnya. Dalam hal ini kesalahan penarikan sampel (Sampling error) mencerminkan keheterogenan atau peluang munculnya perbedaan dari suatu sampel dengan sampel yang lain karena perbedaan dari satu sampel dengan sampel lain karena perbedaan individu yang terpilih dari berbagai sampel tersebut. Sampling error dapat diperkecil dengan memperbesar ukuran sampel meskipun upaya ini mengakibatkan peningkatan biaya survai.

5. Kesalahan Pengukuran (Measurement error)

Pada umumnya kuesioner dirancang dengan tujuan mengumpulkan informasi yang berguna. Data yang diperoleh harus valid dan respon yang benar dan harus terukur. Permasalahan yang sering timbul adalah ternyata lebih mudah membicarakan bagaimana memperoleh pengukuran yang bermakna dari melaksanakannya. Fakta membuktikan bahwa pengukuran seringkali dijalankan dengan banyak kemudahan. Pokok-pokok yang seharusnya ditanyakanpun seringkali tidak tercakup secara lengkap. Dengan demikian pengukuran yang diperoleh seringkali hanya berupa suatu pendekatan dari karakteristik yang ingin diketahui. Kesalahan pengukuran (Measurementn error) merujuk pada ketidak-akuratan dalam mencatat respon yang diberikan responden karena kelemahan instrument dalam memilih pokok-pokok pertanyaan, ketidakmampuan si penanya, ataupun karena pertanyaan yang dibuat cenderung mangarahkan jawaban responden. 11

Daftar Pustaka dan Footnote
DAFTAR PUSTAKA


1. Samapiah Faisal (Format-format Penelitian Sosial (Dasar-dasar dan Aplikasi), Rajawali Pers, Jakarta).

2. Sugiarto, Dergibson Siagian, Lasmono Tri Sunaryanto, Deny S. Oetomo, (Teknik Sampling, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003).

3. Sutrisno Hadi (Statistik Jilid 2, Andi Yogyakarta 2000).

4. Syukur Kholil (Metodolgi Penelitian Komunikasi Citapustaka Media, Bandung,2006).

5. J. Supranto (Statistik Teori dan Aplikasi,Edisi Keenam Jilid 2, Erlangga, 2001)

6. Ida Bagoes Mantra (Filsafat Penelitian & Metode Penelitian Sosial, Pustaka Pelajar, 2004).

7. Masri Singarimbun Sofian Effendi (Metode Penelitian Survai, LP3ES, 1998/1999).

8. Husein Umar (Metode Riset Komunikasi Organisasi, Sebuah Pendekatan Kuantatif dilengkapi dengan Contoh Proposal dan Hasil Riset Komunikasi Organisasi, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002).


Footnote

1 Samapiah Faisal, (Format-format Penelitian Sosial : Dasar-dasar dan Aplikasi,, Rajawali Pers, Jakarta) hlm. 57

2 Ibid, hlm. 58

3 Sugiarto, Dergibson Siagian, Lasmono Tri Sunaryanto, Deny S. Oetomo, (Teknik Sampling,, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003) hlm. 7-8



4 Sutrisno Hadi (Statistik Jilid 2, Andi Yogyakarta 2000), hlm. 182

5 Syukur Kholil. (Metodolgi Penelitian Komunikasi Citapustaka Media,Bandung,2000) hlm. 69

6 J. Supranto (Statistik Teori dan Aplikasi,Edisi Keenam Jilid 2, Erlangga, 2001) hlm. 113-118.

7 Ida Bagoes Mantra (Filsafat Penelitian & Metode Penelitian Sosial, Pustaka Pelajar, 2004),hlm. 97-99.

8 Masri Singarimbun Sofian Effendi (Metode Penelitian Survai, LP3ES, 1998/1999) hlm. 155.

9 Husein Umar (Metode Riset Komunikasi Organisasi, Sebuah Pendekatan Kuantatif dilengkapi dengan Contoh Proposal dan Hasil Riset Komunikasi Organisasi, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002) hlm. 129-132.

10 Sugiarto, Dergibson Siagian, Lasmono Tri Sunaryanto, Deny S. Oetomo (Teknik Sampling, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003) hlm. 9-11.

11 Ibid, hlm : 29-34.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...