Pengertian Sekularisme

Salah satu kebudayaan ummat manusia yang akan kita temui diseluruh belahan bumi adalah beragama. Beragama merupakan salah satu unsur pembangun terpenting kebudayaan manusia. Agama disini adalah seluruh kepercayaan manusia yang sangat melembaga dan berpengaruh besar dalam kehidupan, agama ini biasanya disimbolkan melalui ritual-ritual keagamaan. Kenapa manusia selalu cendrung untuk menganut suatu agama, coba dijelaskan oleh beberapa Sosiolog dalam teori asal-asul agama. Menurut mereka mempercayai kekuatan diluar kemampuan manusia (beragama) sudah menjadi naluri alamiah manusia. Asal-usul agama ini akan dipaparkan lebih jelas pada salah satu pembahasan dalam makalah ini.


Selanjutnya agama akan selalu berubah, baik dalam system kepercayaan masyarakat maupun dalam symbol, kelakuan masyarkat. Perubahan ini terjadi agar suatu kepercayaan tersebut bisa lebih diterima oleh masyarakat penganutnya pada zamannya. Artinya agama berevolusi agar lebih adaptatif, evolusi ini dilakukan secara sadar atau tidak sadar oleh masyarakat penganutnya, untuk bisa menyesuaikan dengan zaman hidupnya suatu agama tersebut.

Agama dalam tahapan evolusi kami bagi kepada lima tahapan sesuai dengan pembagian masa oleh sebagian besar Sejarawan, dan karena perubahan yang signifikan dan begitu besar yang terlihat dalam agama.

Salah satu zaman yang dimaksud adalah zaman modern. Pada zaman modern ini agama sangat berubah jauh dari bentuknya, symbol pada masa prasejarah dan kuno (arkaik). Salah satu cirinya adalah munculnya dualistic dalam agama, dimana kehidupan dunia dan akhirat diseimbangkan, bahkan kehidupan dunia mendapat perhatian lebih besar oleh penganut agama. Sebenarnya dualistic dan sekularisme adalah hal yang sama, yaitu pemisahan dua hal, kehidupan dunia dan akhirat, agama dan dunia.

Apakah itu modernisasi dan bagaimana nasib agama pada zaman ini, bagaiman sekularisme mulai dianut oleh sebagian besar penganut agama, dan apakah sekularisme itu membawa pengaruh yang signifikan dalam agama adalah masalah yang coba kami paparkan dalam makalah ini.


B. Asal-Usul Agama

Untuk lebih memahami perkembangan agama hingga mencapai tahapan masa modern perlu kami jabarkan sekilas bagaiman agama itu bermula hingga menjadi suatu system kepercayaan masyarakat yang begitu melembaga.

Apakah agama akan selalu muncul dalam masyarakat?, para Sosiolog akan menjawab affirmatif, karena beragama merupakan kecenderungan alamiah manusia. Habib Mustofo menambahkan bahwa agama juga muncul ketika manusia merasa lemah ketika menghadapi sesuatu.[1] Tapi bagaimana naluri itu muncul adalah hal yang menarik yang coba dijelaskan oleh Sosiolog seperti Dadang Kahmad dalam teori asal-usul agmanya.

1. Teori Jiwa.

Pada mulanya manusia dengan melihat hal-hal yang disekitarnya meyakini bahwa alam ini tidak hanya dihuni oleh materi seperti yang mereka lihat dan rasakan. Selanjutnya mereka mulai meyakini adanya jin atau roh yang mendiami bumi.

Anggapan mereka bahwa roh atau jiwa (immateri) adalah kekal dan mempunyai kekuatan lebih dari pada kekuatan manusia yang bisa menjaga atau mengancurkan kehidupan manusia menghasilkan kepercayaan bahwa hal itu layak disembah. Dengan kata lain dengan mempercayai adanya suatu yang gaib akan memunculkan agama pada masyrakat tersebut.[2] Agama pada saat itu berpungsi sebagai penyelamat dan penjaga kehidupan.[3]

2. Teori Batas Akal

Akal manusia tidak bisa menerangkan seluruh gejala yang terjadi di bumi, sedangkan manusia terbiasa untuk memnggunakan akal dalam memecahkan seluruh masalah dalam hidup mereka. Meskipun akal manusia selalu berkembang seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi tetapi tetap saja ada hal-hal yang tidak akan bisa dipecahkan dan dijawab oleh akal. Karena akal manusia terbatas.

Karena itu manusia menginginkan sesuatu yang bisa memecahkan dan menjelaskan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh akal, dalam hal ini manusia pada mulanya meyakini magic sebagai sesuatu yang bisa menetupi kelemahan akal tersebut, tapi kemudian mereka sampai kepada hal yang jauh lebih sempurna dan komplek dari pada magic yaitu agama.

3. Teori Krisis Dalam Hidup

Ketenangan diri dalam kehidupan merupakan hal sangat urgen sekali dalam kelangsungan hidup manusia. Ketenangan ini akan dicari selama manusia itu hidup. Ketika terjadi hal-hal yang diluar keinginan manusia seperti musibah yang bisa berupa kematian, kehilangan, bencana alam ketenangan ini terusik. Manusia mencoba menenangkan diri dengan berbagai hal. Ada hal yang tidak bisa dibayar dan dielakkan dengan materi seperti kematian dan lainnya, hingga akhirnya manusia menginginkan sesuatu yang bersifat ruhaniah untuk menenangkan jiwa dan hal itu adalah agama.

4. Teori Sentimen Masyarakat

Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang bertempat tinggal sama dan mempunyai tujuan yang sama. Kepercayaan satu orang saja tidak akan diakui sebagai agama oleh Sosiologi karena salah satu syarat agama adalah pelembagaan.

Maka teori ini berpendapat bahwa agama adalah hasil rasa kebersamaan suatu masyrakat. Lebih jauh lagi bahwa agama bukan timbul dari kepercayaan akan adanya supranatural tapi hanya sebagai rasa kesatuan sebagai masyarakat.

5. Teori Kekuatan Luar Biasa

Sebelum manusia mempercayai adanya kekuatan kekuatan yang menghasilkan fenomena-fenomena yang mereka lihat sebagai suatu hal yang luar biasa, manusia mempercayai bahwa fenomena itu sendirilah yang merupakan tuhan, artinya sebelum animisme manusia telah mempercayai preanimisme.

Tapi lambat laun mereka akhirnya mempercayai bahwa ada kekuatan yang luar biasa yang menghasilkan fenomena tersebut.

6. Teori Wahyu

Agama merupakan wahyu dari tuhan adalah salah satu agama yang paling banyak dianut oleh penduduk bumi, agama seperti ini biasanya disebut agama samawi.

Wahyu tuhan itu disampaikan oleh utusannya dan pada sebagaian agama lain bahkan disampaikan oleh tuhan itu sendiri dalam bentuk manusia, dalam Islam dikenal Nabi Muhammad, dalam agama Kristen dikenal Yesus, Sidarta Gautama dalam agama Budha.

C. Modern dan Sekuler

Agama dan modernisasi adalah suatu masalah yang sangat menarik dalam sosiologi. Kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa modernisasi telah merubah pandangan manusia terhadap agama.

1. Modern dan Modernisasi

Istilah modern berarti mengacu kepada “ sekarang ini”.[4] Sedangkan menurut Koentjoro Ningrat bahwa modernisasi adalah usaha sadar yang dilakukan oleh suatu lembaga atau negara untuk menyesuaikan diri terhadap keadaan dunia dan zamannya.[5]

Pada umumnya dalam pengertian modern tercakup ciri-ciri masyarakat tertentu yang selanjutnya berkembang menjadi salah satu istilah akademis. Istilah modern ini diambil dari bahasa Inggris. Kata modern ini menjadi sangat familiar setelah abad pertengahan, dari aufklarung, reneisans hingga mencapai puncaknya pada pada abad 19 dan 21.

Setelah itu muncullah satu faham yang disebut modernisme, yaitu gerakan pemikiran yang membawa pengaruh besar kepada kehidupan masyarakat dan pandangan mereka terhadap agama. Modernisme ini pertama kali muncul di Eropa, faham ini ingin meruntuhkan kebiasaan kebenaran agama yang mutlak dipegang oleh gereja. Dikotomi yang mereka usung bisa dikatakan sebagai dualistisme atau sekularisme dalam arti sederhana.

Salah satu ciri masyarakat pada tahapan modern adalah antroposentrisme, anggapan bahwa agama hanya berguna bila ada kegunaan pragmatiknya.

Tapi bagaimanapun juga bahwa modern dan modernisme adalah kelanjutan dan akibat zaman sebelumnya (pra modern), bahasa, symbol, beserta temuan-temuan ilmiahnya. Artinya munculnya modernisme yang merubah pandangan manusia terhadap agama adalah disebabkan prilaku beragama masyarakat sebelumnya.

Karena modern adalah kelanjutan logis sejarah maka hal itu tentu tidak bisa dihindarkan, karena lambat laun modernitas itu akan muncul dibelahan bumi ini.[6]

2. Pengertian Sekular, Sekularisasi dan Sekularisme

kata sekular berasal dari bahasa benua Eropa.[7] Sekular dalam bahasa Indonesia berarti bersifat duniawi dan kebendaan.[8] Kata sekular diadopsi dari bahasa Latin yaitu seaculum, yang pada mulanya berarti masa atau generasi, kata ini juga pada mulanya berarti masyarakat biasa bukan masyarakat pendeta.[9]

Sedangkan sekularisasi berarti proses penduniawian, yaitu proses melepaskan hidup duniawi dari kontrol agama, dengan demikian sekularisasi berarti pelepasan dari agama.[10] Akibatnya prilaku keberagamaan seseorang akan menurun dan imbasnya mungkin prilakunya pada bidang lain akan meningkat.

Sedangkan sekularisme adalah suatu faham hasil dari sekularisasi. Seorang yang mengalami sekularisasi maka ia akan menganut faham sekularisme. Sekularisme adalah faham keduniawian, bahkan penolakan adanya kehidupan setelah kehidupan di dunia.[11] Dalam ensiklopedi Britania disebutkan bahwa sekularisme adalah faham kemasyarakatan yang bertujuan memalingkan manusia dari kehidupan akhirat dan semata-mata hanya berorientasi pada kehidupan dunia.[12]

3. Proses Lahirnya Sekularisasi.

Sekularisme berasal dari pengalaman sejarah eropa. Hal ini berarti pemisahan bertahap dalam hampir semua aspek kehidupan dan pemikiran-pemikiran perkumpulan kependetaan. Hal ini berkembang di inggris pada abad ke 16.[13]

Dalam pengalaman sejarah Eropa yang sangat bervariasi proses sekularisasi hidup bersaman dengan intesifikasi kehidupan beragama. Sekularisasi merupakan proses yang panjang. Paradigma sekularisasi bukanlah hal yang sederhana. Seorang sosiolog Steve Bruce dalam karyanya Good Is Dead : Secularization in West menjelaskan bahwa sekularisasi dimulai reformasi protestan.[14]

Para ahli sosiologi mengkaji hubungan antara agama dan perubahan sosial. Ada yang berpendapat bahwa agama merupakan penghambat peubahan social, karena agamalah masyarakat menerima dengan pasrah nasib buruk yang menimpa mereka dan tidak tergerak untuk merubah kehidupan mereka. Tapi ada juga yang menentang pendapat ini, yang meyakini bahwa masyrakat beragama adalah masyarakat revolusioner yang menginginkan perubahan social.

Dalam banyak masyarakat, perubahan sosial biasanya dibarengi dengan munculnya sekularisme. Sekularisme dalam hal ini diartikan proses dimana agama kehilangan kekuatannya dalam mengontrol masyarakat, atau proses dimana perhatian masyarakat tercurah untuk kehidupan duniawi dan meninggalkan kehidupan ruhaniah.

Banyak sebab yang mendukung munculnya perubahan ini seperti ilmu pengetahuan, teknologi, peningkatan standar kehidupan manusia dan lain sebagainya.



D. Sekularisme: Ciri Agama Pada Fase Modern.

karakter agama pada fase ini adalah lenyapnya pen-strukturan dunia dan akhirat, meski faham dualisme tetap ada tapi dengan makna baru bahwa kedua dunia itu tidak dapat dipisahkan secara komplit, keselamatan tidaklah dapat dicapai dengan menarik diri dari dunia. Masyarakat pada fase inipun berusaha menyeimbangkan antara keduanya.

Simbol agama fase ini berpusat pada hubungan langsung antar individu dan kenyataan transendental, seperti keyakinan berpakaian sopan adalah untuk keselamatan dunia dan akhirat.

Maka tindakan pada fase ini meliputi segala kehidupan, tentu saja hal ini akan menjadi sebab merosotnya beberapa praktek keagamaan tertentu. Dan sebagai gantinya adalah penyembahan tuhan dalam setiap detik kehidupan. Penekanannya pada keyakinan internal seseorang dan mengabaikan tindakan atau praktek tertentu.

Salah satu ciri agama dalam fase modern adalah munculnya sekularisme,[15]Sekularisme adalah faham yang menganut keduniawaian atau kebendaan,[16] juga proses melepaskan diri dari kontrol agama.[17]

Keinginan untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat adalah suatu usaha yang logis yang ingin dikembangkan oleh masyarakat. Faham ini mungkin adalah akibat dari faham sebelumnya yang secara mayoritas mengatakan bahwa untuk mencapai kehidupan akhirat maka kehidupan dunia harus ditinggalkan.

Sekularisme pada fase modern ini menjadi ciri utama berbagai hal termasuk agama. Beberapa bidang lain selain agama juga terkena sekulasisasi, seperti ilmu pengetahuan, tasawuf dan lain-lain. Fazlurrahman mengatakan bahwa pada abad 18 M ilmu pengetahuan di dunia Islam telah mengalami sekularisasi, yaitu dengan dibaginya ilmu pengetahuan agama dan sains.[18]

Begitu juga dengan tasawuf yang memunculkan ajaran neo sufisme, ajaran ini menganggap bahwa zuhud yang dikenalkan oleh tasawwuf klasik tidak bisa lagi mengikuti zaman sekarang ini, dari itu neo sufisme menjadikan ajaran zuhud sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada tuhan tanpa meninggalkan kehidupa duniawi. Ajaran ini ingin menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, hingga dikhawatirkan akan terjadi ketimpangan dalam dua hal ini.

Keinginan untuk menyeimbangkan duan unsure pembangun kehidupan masyarakat ini sebenarnya adalah hal yang bagus dan baik. Tapi pada perkembangannya ternyata terjadi kepincangan dan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ketika jehidupan bergama ternyata benar-benar ditingalkan atau diberi kurang perhatian dibanding dengan kehidupan akhirat.

Para pemuka agama tidak terlalu dibutuhkan pada situasi seperti ini hal ini dakeranakan kehidupan beragama dianggap sebagai kehidupan pribadi yang diurus oleh masing-masing personal pemeluk agama.

Agama dan modernisasi adalah suatu masalah yang sangat menarik dalam sosiologi. Kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa modernisasi telah merubah pandangan manusia terhadap agama.

Begitulah agama semakin berkembang hingga timbul kecendrungan merosotnya dualisme, merosotnya nilai terhadap akhirat. Orang lebih tertarik dengan aktivitas dunia dan tidak bergantung pada ahli-ahli agama untuk mencari kebenaran.

Apakah yang terjadi hingga terlihat perubahan yang begitu besar dalam pandangan masyarakat terhadap agama?, yang terjadi adalah sekularisasi, tapi bagaimana sekularisasi itu berproses memang perlu penelitian lebih lanjut karena proses sekularisasi itu tidak sama pada setiap masyarakat.

Masyarakat beragama Indonesia mengenal sekularisme karena transformasi berbagai hal dari kehidupan dan kebudayaan eropa. Baik melalui persentuhan kebudayaan atau karena komunikasi yang begitu canggih.

Ada anggapan bahwa sekularisme itu ada hal yang tidak layak untuk diterima dalam masyrakat beragama. Memang jikalau kita melihat masyaraklt sekuler pada umumnya termasuk Indonesia, kita akan berkesimpulan ternyata sekulrisme selalu dibarengi dengan dekadensi moral.

Tapi juga anggapan bahwa sekularisme sebagai hal yang buruk tapi tidak dengan sekularisasi. Hal ini perlu kita sikapi dengan hati-hati. Sekularisme adalah paham, sedangkan sekularisasi adalah proses. Bagaimanapun sekularisasi sebagai proses adalah proses untuk menuju sekularisme, dan bagaimana mungkin kita bisa mengatakan sekulerisasi itu sebagai hal yang boleh tapi sekularisme adalah hal yang buruk.

Anggapan kebolehan sekularisasi adalah berangkat dari term sekulerisasi ternyata adalah sekularisasi tanpa sekularisme, atau proses penduniawian tanpa paham dunia dengan kata lain adalah sekularisme terkoreksi dan terbatas. Jikalau demikian adanya dan maksudnya maka kita perlu untuk menemukan suatu istilah baru untuk sekularisasi terkoreksi itu, agar kita bisa meyakini seratus persen bahwa sekularisme. Sekularisasi dan sekular, segala apapun yang menyangkut dengannya adalah hal yang perlu dilawan untuk kelestarian agama.

Seandainya ternyata sekuler yang dimaksud adalah penyeimbangan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat- sementara yang terjadi tidaklah demikian-maka harus ada juga term baru untuk faham tersebut. Paham seperti itu juga memang didukung oleh agama.

Jadi agama telah menalami sekulerisasi pada zaman modern ini agama dengan evolusinya telah menemukan suatu bentuk agama yang sungguh berbeda dengan masa sebelumnya. Dualistic yang berkembang sebelum masa modern telah berkembang dan menguat hingga menjadi sekularisme.

Zaman modern ini memang selalu dibarengi dengan faham sekualrisme ini. Bukan hanya dalam ilmu pengetahuan, kebudayaan bahkan dalam agama.

E. Penutup.

Zaman modern dan modernisasi sebagai tahapan evolusi agama telah menghasilkan faham yang merubah pandangan masyarakat tentang agama, dimana keinginan untuk menyeimabangkan kehidupan akhirat dan kehidupan dunia telah berubah menjadi peninggalan terhadap kehidupan akhirat dan kehidupan beragama dalam arti masa sebelum fase modern. Dengan kata lain dualistic telah berubah menjadi sekularisme.

Sekularisme yang merupakan hasil dari sekularisasi sebagai proses telah menjadi ciri khas kehidupan masyarakat modern, baik dalam dunia keilmuan dan dunia keberagamaan. Sekularisasi dan sekularisme dipandang tidak baik oleh agama normative, bukan hanya karena yang terjadi adalah peninggalan terhadap ritual-ritual keberagamaan yang sebenarnya diwajibkan tapi juga dampak yang dibawa oleh sekularisme yaitu dekadensi moral.

 Ada faham dan keinginan untuk munculnya kembali semangat kehidupan keberagamaan pada fase post modern. Tapi dengan melihat lebih teliti ternyata kemungkinan itu adalah hal yang sangat kecil, bahkan penulis berhipotesis bahwa yang terjadi kemudian bukanlah semangat keberagamaan yang muncul tapi sebuah ajaran atau faham pasca sekularisme yang bercorak secular yang lebih dahsyat.

Daftar Pustaka dan Footnote

Daftar Pustaka
Amstrong, Karen, Sejarah Tuhan. Bandung: Mizan, 2001.
Arkoun, M., Islam modernitas. Jakarta: Paramadina, 1998.
Capps, Walter H., Religious Studies in The Making Of Disciplin, Fortress press, 1995.
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:Balai pustaka, 2001.
Esposito, John.L., Ensiklopedi Oxford 5, Terj Yudian. Bandung: Mizan, 2002.
Fattah, Rohadi Abdul, Sosiologi Agama. Jakarta: Titian Kencana Mandiri, 2004.
Fazlurrahman, Islam Dan Modernitas, terj Ahsin Muhammad. Bandung: Pustaka, 1999.
Garna,Judistira. K., Antropologi Agama. Bandung: t.p. 1997.
Hosbwan, E.J., The Age of Revolution 1889-1948. New York, 1982.
Koentjoro Ningrat Kebudayaan Mentalitik dan Pembangunan, Gramedia, Jakarta, 1976.
Majid, Nurcholish, Islam Kemodernan Dan keIndonesiaan. Bandung,Mizan, 1998
Mustofo, M. Habib., Kumpulan Essay Manusia Dan Budaya. Surabaya: Usaha Nasional, 1988.
Nasution, Harun, Islam Rasional. Bandung: Mizan, 1995.
Odea, Thomas F., Sosiologi Agama. Jakarta: Rajawali Press, 1992.
Pye, Lucian W., Aspect of Political Develovment. Boston: Little Brown, 1965.
Robertson, Roland, Agama Dalam Analisa Dan Interprestasi Sosial. Jakarta: Rajawali Press, 1998.
Schools, I.J.W., Modernisasi:Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Berkembang, terj Sokadijo. Jakarta: Gramedia, 1991.
Yunus, Mahmud, Al-Adyan. Semarang: Toha Putra, 1987.
Yusuf Qardhawi, Sekular Ekstrim, terj Nuhani, Pustaka Al-kautsar, Jakarta, 2000.

Footnote

[1] M.Habib.Mustofo, Kumpulan Essay Manusia Dan Budaya, Usaha Nasional, Surabaya, 1988. hal 59.

[2] Karen Amstrong, Sejarah Tuhan, Mizan, Bandung, 2001. hal 29.

[3] Rohadi Abdul Fattah, Sosiologi Agama, Titian kencana Mandiri, Jakarta, 2004. hal 89.

[4] Judistira.K.Garna, Antropologi Agama, t.p. Bandung, 1997. Hal 4.

[5] Koentjoro Ningrat Kebudayaan Mentalitik dan Pembangunan, Gramedia, Jakarta, 1976. Hal

[6] Lucian W.Pye, Aspect of Political Develovment, Little Brown, Boston, 1965. hal 8.

[7] Nurcholish Majid, Islam Kemodernan Dan keindonesiaan, Mizan, Bandung, 1998. Hal 216.

[8] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia,Balai pustaka , Jakarta, 2001. hal 310.

[9] John.L.Esposito, Ensiklopedi Oxford 5, Terj Yudian, Mizan, Bandung, 2002. hal 128.

[10] Harun Nasution, Islam Rasional, Mizan Bandung, 1995. Hal 188.

[11] Nurcholish, op,cit.

[12] Yusuf Qardhawi, Sekular Ekstrim, terj Nuhani, Pustaka Al-kautsar, Jakarta, 2000. hal 2.

[13] M. Arkoun, Islam modernitas, Paramadina, Jakarta, 1998. hal 78.

[14] E.J.Hosbwan, The Age of Revolution 1889-1948, New York, 1982. hal 272.

[15] I.J.W.Schools, Modernisasi:Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-Negara Berkembang, terj Sokadijo, Gramedia, Jakarta, 1991. Hal 1.

[16] Nurcholish Majid, Islam Kemodernan Dan keindonesiaan, Mizan, Bandung, 1998. Hal 216.

[17] Harun Nasution, Islam Rasional, Mizan Bandung, 1995. Hal 188.

[18] Fazlurrahman, Islam Dan Modernitas, terj Ahsin Muhammad, Pustaka, Bandung, 1999. hal 50.

Jika Anda Tertarik untuk mengcopy Makalah ini, maka secara ikhlas saya mengijnkannya, tapi saya berharap sobat menaruh link saya ya..saya yakin Sobat orang yang baik. selain Makalah Pengertian Sekularisme, anda dapat membaca Makalah lainnya di Aneka Ragam Makalah. dan Jika Anda Ingin Berbagi Makalah Anda ke blog saya silahkan anda klik disini.Salam saya Ibrahim Lubis. email :ibrahimstwo0@gmail.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...